<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Gen_R</title>
	<atom:link href="http://genr.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://genr.wordpress.com</link>
	<description>Sahabat Generasi Rabbani</description>
	<lastBuildDate>Wed, 24 Jun 2009 01:36:19 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='genr.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/13858e92245be6e75979121b06f7daef?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Gen_R</title>
		<link>http://genr.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Kisah Umar bin Abdul Aziz</title>
		<link>http://genr.wordpress.com/2009/06/24/28/</link>
		<comments>http://genr.wordpress.com/2009/06/24/28/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Jun 2009 01:34:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>genrnews</dc:creator>
				<category><![CDATA[Motivasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://genr.wordpress.com/2009/06/24/28/</guid>
		<description><![CDATA[Umar bin Abdul Aziz
       <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=genr.wordpress.com&blog=2602839&post=28&subd=genr&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://www.motivasi-islami.com/inspirasi/cerita-inspiratif/umar-bin-abdul-aziz/">Umar bin Abdul Aziz</a></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/genr.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/genr.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/genr.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/genr.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/genr.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/genr.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/genr.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/genr.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/genr.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/genr.wordpress.com/28/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=genr.wordpress.com&blog=2602839&post=28&subd=genr&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://genr.wordpress.com/2009/06/24/28/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/758758f3ee59f1e437503858d66f3239?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">genrnews</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Motivasi Diri</title>
		<link>http://genr.wordpress.com/2009/06/24/motivasi-diri/</link>
		<comments>http://genr.wordpress.com/2009/06/24/motivasi-diri/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Jun 2009 00:58:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>genrnews</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[RM 100]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://genr.wordpress.com/?p=25</guid>
		<description><![CDATA[Apa yang membuat anda tetap hidup seperti sekarang ini? Saya pernah ditanya salah seorang pengusaha rumah makan &#8211; sekarang merambah ke swalayan- yang sukses di Kab. Batu Bara Sumut.Yaitu Bapak H. Ahmad Khalili (RM 100) Saya hanya bisa jawab karena &#8220;motivasi&#8221;. Sebetulnya ga&#8217; kepikiran untuk jawab itu. ternyata jawaban saya sama dengan pendapat beliau. Tanpa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=genr.wordpress.com&blog=2602839&post=25&subd=genr&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Apa yang membuat anda tetap hidup seperti sekarang ini? Saya pernah ditanya salah seorang pengusaha rumah makan &#8211; sekarang merambah ke swalayan- yang sukses di Kab. Batu Bara Sumut.Yaitu Bapak H. Ahmad Khalili (<strong>RM 100</strong>) Saya hanya bisa jawab karena <strong>&#8220;motivasi&#8221;. </strong>Sebetulnya ga&#8217; kepikiran untuk jawab itu. ternyata jawaban saya sama dengan pendapat beliau. Tanpa sesuatu yang dapat memicu kita untuk tetap berjuang dan melawan kerasnya hidup ini<em>, </em>pastilah saya dan anda atau siapa saja akan &#8216;mati&#8217;. Mati yang dimaksudkan bukan meninggal dunia, melainkan tidak bergerak, tidak bergairah, bawaannya malas aja. Yang pada akhirnya kita akan mempersalahkan nasib diri dengan kata &#8220;ya&#8230; udah nasib,&#8221; &#8220;biar sajalah, mau diapain lagi..&#8221;.</p>
<p>dah &#8230;&#8230;&#8230; dulu nanti disambung lagi&#8230; &#8220;kita cari solusi untuk memotivasi diri&#8221;.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/genr.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/genr.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/genr.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/genr.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/genr.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/genr.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/genr.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/genr.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/genr.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/genr.wordpress.com/25/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=genr.wordpress.com&blog=2602839&post=25&subd=genr&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://genr.wordpress.com/2009/06/24/motivasi-diri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/758758f3ee59f1e437503858d66f3239?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">genrnews</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dinar the Real Money</title>
		<link>http://genr.wordpress.com/2009/06/06/dinar-the-real-money/</link>
		<comments>http://genr.wordpress.com/2009/06/06/dinar-the-real-money/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Jun 2009 07:57:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>genrnews</dc:creator>
				<category><![CDATA[Book Review]]></category>
		<category><![CDATA[dinar]]></category>
		<category><![CDATA[emas]]></category>
		<category><![CDATA[investasi]]></category>
		<category><![CDATA[real money]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://genr.wordpress.com/?p=20</guid>
		<description><![CDATA[(Dinar Emas, Uang dan Investasiku)
Penulis: Muhaimin Iqbal Penerbit: Gema Insani
Inflasi yang berarti menurunnya daya beli uang, adalah faktor ketidakpastian terbesar yang paling sulit diatasi. Laju inflasi akan semakin menurunkan nilai uang kertas. Tak heran bila pada tahun 1923 nilai uang kertas di Jerman terpuruk serendah-rendahnya karena laju inflasi yang gila-gilaan. Hingga segerobak uang kertas hanya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=genr.wordpress.com&blog=2602839&post=20&subd=genr&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>(Dinar Emas, Uang dan Investasiku)</p>
<p>Penulis: Muhaimin Iqbal Penerbit: Gema Insani</p>
<p><strong>Inflasi </strong>yang berarti menurunnya daya beli uang, adalah faktor ketidakpastian terbesar yang paling sulit diatasi. Laju inflasi akan semakin menurunkan nilai uang kertas. Tak heran bila pada tahun 1923 nilai uang kertas di Jerman terpuruk serendah-rendahnya karena laju inflasi yang gila-gilaan. Hingga segerobak uang kertas hanya dapat ditukar dengan beberapa potong roti saja.<span id="more-20"></span></p>
<p>Keadaan seperti ini sudah terjadi berkali-kali dalam sejarah ekonomi dunia. Akhirnya sebagaian masyarakat dunia pun tersadar bahwa uang kertas tak akan pernah bisa stabil selamanya. <strong>Emas</strong> kembali mendapat perhatian sebagai Investasi yang lebih amanketimbang uang kertas. Bahkan<strong> Dinar</strong> sebagai mata uang emas &#8211; yang telah digunakan sejak masa  <strong>Rasulullah SAW</strong> &#8211; ternyata bisa juga dijadikan sebagai alat tukar yang digunakan dalam keseharian, tentunya dengan sistem yang sudah dikembangkan juga.</p>
<p>Berbeda dengan uang kertas, <strong>Dinar</strong> punya harga yang stabil sejak zaman nabi sampai saat ini. Kalau di zaman itu seekor kambing bisa dibeli dengan 1 Dinar (sekitar Rp. 1.171.700,-). Sebagai <strong>emas</strong>, keberlakuan Dinar melintasi berbagai tempat dan negara.</p>
<p><strong>Buku</strong> yang berisi artikel-artikel yang telah dimuat di blog <strong>www.GeraiDinar.com</strong> ini menjawab segala keingintahuan banyak orang tentang investasi emas dan Dinar ini. Penulis, sebagai praktisi usaha sekaligus  akademisi, menguraikan segala hal tentang emas dan Dinar serta kondisi ekonomi global yang mengitarinya dengan bahasa yang lugas dan mudah dipahami. Membaca buku ini membuat kita berpikir ulang tentang investasi dalam uang kertas yang selama ini telah kita lakukan. Kembali ke Dinar bisa jadi langkah yang bijaksana dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi dunia.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/genr.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/genr.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/genr.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/genr.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/genr.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/genr.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/genr.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/genr.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/genr.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/genr.wordpress.com/20/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=genr.wordpress.com&blog=2602839&post=20&subd=genr&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://genr.wordpress.com/2009/06/06/dinar-the-real-money/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/758758f3ee59f1e437503858d66f3239?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">genrnews</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Belajar dari Kesalahan</title>
		<link>http://genr.wordpress.com/2009/05/28/belajar-dari-kesalahan/</link>
		<comments>http://genr.wordpress.com/2009/05/28/belajar-dari-kesalahan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 May 2009 02:52:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>genrnews</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[dunia usaha]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://genr.wordpress.com/?p=16</guid>
		<description><![CDATA[Kadang kita takut melakukan kesalahan, walaupun itu kecil. karena akan mengakibatkan kerugian. Apakah anda seperti itu??? Mungkin, manusiawi, kan? Sebagaimana yang kita ketahui tidak ada manusia yang sempurna, dalam ungkapan bahasa Inggris “no body perfect in the world.”
Makanya setiap papan tulis ada penghapusnya, betul-betul?? Setiap keyboard di komputer ada delete nya&#8230; Kaya nya nggak ada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=genr.wordpress.com&blog=2602839&post=16&subd=genr&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Kadang kita takut melakukan kesalahan, walaupun itu kecil. karena akan mengakibatkan kerugian. Apakah anda seperti itu??? Mungkin, manusiawi, kan? Sebagaimana yang kita ketahui tidak ada manusia yang sempurna, dalam ungkapan bahasa Inggris “<strong>no body perfect in the world</strong>.”<span id="more-16"></span></p>
<p>Makanya setiap papan tulis ada penghapusnya, betul-betul?? Setiap keyboard di komputer ada <strong><em>delete</em></strong> nya&#8230; Kaya nya nggak ada orang selama menulis di papan tulis atau dengan komputer tersebut benar, betul dan oke semuanya. Pas lagi nulis atau ngetik.. ee..ee lupa&#8230; ada ketinggalan, salah ketik. Dihapus deh&#8230;.</p>
<p>Namun dalam kehidupannya nyata apalagi di <strong>dunia usaha</strong>, anda pasti takut berbuat salah. Akhirnya berhati-hati dan terlalu berhati-hati. Alangkah disayangkan jika anda langsung membatalkan rancangan-rancangan yang telah dibuat. Betul kata pribahasa “<strong>Pikir itu pelita hati</strong>” tapi kalau <em>over</em> pelita nya jadi padam, minyak sudah habis. (minyak tanah antri lagi membelinya&#8230;) <em>just kidding.</em></p>
<p><em>No matter what you make mistaken</em>&#8230;.<em>do and do &#8230;. more and more</em> &#8230; tindakan &#8230; lalu salah&#8230;.bertindak lagi, salah lagi&#8230;<strong>Belajarlah dari kesalahan</strong> tersebut langsung cepat ambil tindakan yang lain. Ketika pertama kali berbuat lalu salah, anda tentu ambil tindakan yang baru, salah lagi ambil tindakan yang lain lagi&#8230;Biarlah salah tapi cepat dari pada lambat&#8230;. lambat juga merupakan kesalahan. Anda lambat beberapa saat, orang lain akan mendahului anda.</p>
<p>Anda mungkin pernah mengatakan “itu ide saya yang dikerjakannya.” Anda berpikir orang lain yang membuat. Atau “seharusnya saya yang berada di sana”. Lebih sakit lagi kan&#8230;.karena saya juga pernah mengatakannya&#8230;ha..ha..ha.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/genr.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/genr.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/genr.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/genr.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/genr.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/genr.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/genr.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/genr.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/genr.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/genr.wordpress.com/16/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=genr.wordpress.com&blog=2602839&post=16&subd=genr&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://genr.wordpress.com/2009/05/28/belajar-dari-kesalahan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/758758f3ee59f1e437503858d66f3239?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">genrnews</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>TIDAK PNS, MENGAPA TAKUT?</title>
		<link>http://genr.wordpress.com/2008/04/09/tidak-pns-mengapa-takut/</link>
		<comments>http://genr.wordpress.com/2008/04/09/tidak-pns-mengapa-takut/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Apr 2008 02:48:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>genrnews</dc:creator>
				<category><![CDATA[Peluang Usaha]]></category>
		<category><![CDATA[offline]]></category>
		<category><![CDATA[online]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://genr.wordpress.com/?p=13</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa bulan yang lalu pengumuman hasil ujian CPNS Kab. Batu Bara yang diikuti hampir 8.000 peserta, Pemkab Batu Bara hanya menerima 88 orang, sisanya mau diapain? Di berbagai tempat hampir sama kejadiannya seperti itu. Ironisnya orang rela memperebutkan 1 posisi dengan persaingan yang sangat  ketat (1 : 100, bahkan lebih). Nah&#8230;artinya peluang untuk menjadi PNS [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=genr.wordpress.com&blog=2602839&post=13&subd=genr&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span>Beberapa bulan yang lalu pengumuman hasil ujian CPNS Kab. Batu Bara yang diikuti hampir 8.000 peserta, Pemkab Batu Bara hanya menerima 88 orang, sisanya mau diapain?<span> Di berbagai tempat hampir sama kejadiannya seperti itu. Ironisnya orang rela memperebutkan 1 posisi dengan persaingan yang sangat  ketat (1 : 100, bahkan lebih). </span>Nah&#8230;artinya peluang untuk menjadi PNS sangat kecil sekali. Itulah yang harus dipikirkan oleh setiap orang, bahwa tidak mungkin semua orang dapat menjadi PNS atau menjadi pegawai kantoran, untuk itu carilah </span><strong><span style="font-size:18pt;">peluang usaha</span></strong><span> yang dapat membawa kepada pencerahan.</span><span id="more-13"></span><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span>Orang-orang kepikiran kalau menjadi PNS akan terjamin hidup, masa depan, hari tuanya. Lihat dulu? Kenapa banyak juga udah jadi PNS mengeluh juga&#8230;he..he&#8230; Jadi semuanya tergantung orangnya bukan masalah pekerjaan dan profesinya. Soal hari tua (pensiun), kan hampir semua bank ada produk “Tabungan Hari Tua” tinggal kita buka rekening di bank tersebut, pada saat umur 55 tahun (masa pensiun) bank akan mengirim uang setiap bulan sebagai uang pensiun, gampang kan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span>Sebetulnya manusia itu mau cari apa? Uang, kekayaan, pekerjaan atau gengsi? Uang bukan hanya di PNS, kekayaan tidak hanya dapat diraih di PNS, pekerjaan bukan hanya di PNS, apa lagi gengsi. Kalau korupsi Wallahu a’lam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span>Bagaimana kalau saya beri informasi tentang </span><strong><span style="font-size:16pt;">peluang-peluang usaha </span></strong><span>baru baik secara online dan offline&#8230;. tunggu aja!! Ok!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span> </span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/genr.wordpress.com/13/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/genr.wordpress.com/13/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/genr.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/genr.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/genr.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/genr.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/genr.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/genr.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/genr.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/genr.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/genr.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/genr.wordpress.com/13/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=genr.wordpress.com&blog=2602839&post=13&subd=genr&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://genr.wordpress.com/2008/04/09/tidak-pns-mengapa-takut/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/758758f3ee59f1e437503858d66f3239?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">genrnews</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>TEROR</title>
		<link>http://genr.wordpress.com/2008/02/26/teror/</link>
		<comments>http://genr.wordpress.com/2008/02/26/teror/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Feb 2008 05:19:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>genrnews</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://genr.wordpress.com/2008/02/26/teror/</guid>
		<description><![CDATA[“&#8230;Oke ya, nanti kita kontak-kontak lagi,“ tapi kalau ada proyek bagi-bagilah, hahaa&#8230;”  Aku pun ikut tertawa menanggapi gurauan dan tawanya yang lepas yang selalu mencairkan suasana. Sesungguhnya sebuah gurauan yang lazim diperdengarkan oleh berbagai lapisan masyarakat tapi agaknya itu cenderung sekedar basa-basi, dalam banyak kasus bahkan kata tersebut dimanfaatkan untuk menciptakan postur atau lazim disebut [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=genr.wordpress.com&blog=2602839&post=12&subd=genr&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><span style="font-size:9.5pt;font-family:Verdana;">“&#8230;Oke ya, nanti kita kontak-kontak lagi,“ tapi kalau ada proyek bagi-bagilah, hahaa&#8230;”<span>  </span>Aku pun ikut tertawa menanggapi gurauan dan tawanya yang lepas yang selalu mencairkan suasana. Sesungguhnya sebuah gurauan yang lazim diperdengarkan oleh berbagai lapisan masyarakat tapi agaknya itu cenderung sekedar basa-basi, dalam banyak kasus bahkan kata tersebut dimanfaatkan untuk menciptakan postur atau lazim disebut sebagai citra diri ‘sukses’ si penutur kata yang mungkin mereka merasa pantas melakukan itu afau sesungguhnya menutupi keadaannya yang terpuruk jauh dari kata-kata itu.</span><span id="more-12"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:18pt;text-indent:18pt;line-height:14.4pt;"><span style="font-size:9.5pt;font-family:Verdana;">Mengapa dapat dikatakan demikian</span><span style="font-size:9.5pt;font-family:Verdana;">?,</span><span style="font-size:9.5pt;font-family:Verdana;"> jawabannya adalah, cobalah sekedar mendengarkan intonasi atau nada dari pengucapan kata tersebut sekaligus ‘jika ada’ jenis tawa yang dilontarkan. Lalu hubungkan dengan ekspresi wajah dan bahasa tubuhnya, lihat juga penampilannya sehari-hari, jika cukup jeli kita dapat melihat kenyataan sehari-harinya, tentang kebiasaan dan dimana mereka biasa berkumpul menghabiskan waktu ‘yang mereka sebut kepada orang rumah dan tetangganya’</span><span style="font-size:9.5pt;font-family:Verdana;"> </span><span style="font-size:9.5pt;font-family:Verdana;">untuk ‘bekerja’.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;"><span style="font-size:9.5pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:18pt;line-height:13.2pt;"><span style="font-size:9.5pt;font-family:Verdana;">Berpuluh-puluh menit yang lalu sebelum berpisah tadi aku dan kenalanku itu kembali ‘terjebak’ rutinitas ‘bekerja</span><span style="font-size:9.5pt;font-family:Verdana;">&#8216;</span><span style="font-size:9.5pt;font-family:Verdana;"> yang kami lakukan. Kami bekerja dimanapun kami sempat, kebetulan kesempatan bertemu di sebuah lobby terminal ataupun stasiun dimana bangku-bangku disusun rapi di depan sebuah kedai minuman disanalah kami ‘bekerja</span><span style="font-size:9.5pt;font-family:Verdana;">&#8216;,</span><span style="font-size:9.5pt;font-family:Verdana;"> yang lain memilih ‘berkantor&#8217; di kedai kenalannya, beberapa yang lain entah mengapa dalam kelompok kecil dengan anggota yang tetap setiap sore pasti bertemu di sebuah gerai telekomunikasi yang sejuk meski mereka harus merogoh sejumlah rupiah untuk membeli 1 atau 2 produk yang dijual jika tak ingin mendapati muka masam pelayannya. Namun semua setuju tempat paling nyaman, murah, meriah adalah rumah tuhan. Disanalah kami bekerja walau awainya malu-malu tapi ada kesepakatan tak tertulis yang dengan sendirinya telah dimengerti semua yang bekerja di situ sehingga tak ada lagi keraguan unfuk menyempat-nyempatkan diri mampir ke rumah tuhan. Untuk apa </span><span style="font-size:9.5pt;font-family:Verdana;">?,</span><span style="font-size:9.5pt;font-family:Verdana;"> oh tentu saja untuk menghadap tuhan, memohon bantuan padaNya tapi itupun tak lama karena kami ‘bekerja’</span><span style="font-size:9.5pt;font-family:Verdana;">,</span><span style="font-size:9.5pt;font-family:Verdana;"> kami berbicara satu sama lain, kami menjual, kami menjual konsep, pikiran dan opini tentang banyak hal pada yang lain. Berhubung kami menjual, yang lainpun ikut menjual di satu­ satunya ‘pasar’ tempat dimana uang tak pernah beredar. Lagi-lagi mengapa demikian </span><span style="font-size:9.5pt;font-family:Verdana;">?</span><span style="font-size:9.5pt;font-family:Verdana;"> karena semua orang menjual dan sepatah kata atau berapapun yang dilontarkan pantaskah dihargai dengan mata uang jenis apapun </span><span style="font-size:9.5pt;font-family:Verdana;">?.</span><span style="font-size:9.5pt;font-family:Verdana;"> Tunggu </span><span style="font-size:9.5pt;font-family:Verdana;">!,</span><span style="font-size:9.5pt;font-family:Verdana;"> kami bekerja, lihatlah penampilan kami dengan seragam kemeja dan celana khas kantoran. Kemanapun tas tak pernah tinggal menghiasi penampilan kami maka tidak pada tempatnya kami diragukan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;"><span style="font-size:9.5pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:3.6pt;text-indent:14.4pt;line-height:14.4pt;"><span style="font-size:9.5pt;font-family:Verdana;">“Apa bisnis sekarang ?”, aku menanyakan kenalanku ini. “Sebuah proyek yang hanya bisa ditembus oleh mereka dengan keterampilan seperti aku. Tahu sendirilah soal formula, resep aku paham benar”</span><span style="font-size:9.5pt;font-family:Verdana;">.</span><span style="font-size:9.5pt;font-family:Verdana;"> <span>“Jadi sebuah restoran rupanya&#8230;”. Tapi ia menampik “..tidak sesederhana itu, dengan bekal sekian lama dan banyaknya pengalaman, terbukti berkali-kali hal ini tidak dapat dilakukan dengan cara-cara lama dan sederhana. Kita ingin tidak sekedar menjual produk tapi juga rasa aman pelanggan yang menikmati produk tersebut di tempat kita. Jadi ini sebuah konsep bisnis yang besar, penting dan tidak main-main”</span></span><span style="font-size:9.5pt;font-family:Verdana;">.</span><span style="font-size:9.5pt;font-family:Verdana;"> <span>“Siapa yang mengajak </span></span><span style="font-size:9.5pt;font-family:Verdana;">bergabung ?” aku menyela. “Tepatnya merekalah &#8220;orang-orang terpilih&#8221; yang kuajak bergabung dengan konsep bisnis ini”, jawabnya penuh percaya diri. “Sudah berapa orang yang bergabung ?”. “Saat ini mereka dalam tahap mempelajari setelah sekian pembicaraan dan presentasi yang kita lakukan, jadi&#8230; ya tunggu sajalah”. Dalam hati kupastikan bahwa proyeknya belum berjalan sama sekali. Lagi-lagi hanya bicara, lalu apakah ada uangnya </span><span style="font-size:9.5pt;font-family:Tahoma;">?,</span><span style="font-size:9.5pt;font-family:Verdana;"> bacalah bibir ini dan lihat gelengan kepalaku yang mengatakan TIDAK. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:3.6pt;text-indent:14.4pt;line-height:14.4pt;"><span style="font-size:9.5pt;font-family:Verdana;">Ternyata ia masih berlanjut untuk mengatakan tentang proyek itu sedikit lagi. “Rasa aman, dalam banyak hal itulah sebenarnya semangat bisnis ini. Setelah kejadian Bali yang mengacaukan kehidupan banyak orang. Kita yang kecil-kecil ini cuma bisa jadi pelengkap penderita rentetan kejadian yang kata orang adalah sebuah skenario besar dari mereka yang berkuasa dan menikmati perannya sebagai tuhan di bumi”</span><span style="font-size:9.5pt;font-family:Tahoma;">.</span><span style="font-size:9.5pt;font-family:Verdana;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:3.6pt;text-indent:14.4pt;line-height:14.4pt;"><span style="font-size:9.5pt;font-family:Verdana;">Mendengar perkataannya aku mulai meraba-raba apakah kami akan segera menyinggung topik sejarah peradaban manusia di bumi yang beragam versinya. Batinku berkata “ini bisa panjang Lagi nih&#8230;</span><span style="font-size:9.5pt;font-family:Tahoma;">?”,</span><span style="font-size:9.5pt;font-family:Verdana;"> cukup panjang untuk menghabiskan hari ini sehingga kita dapat pulang ke tempat masing-masing bersamaan dengan mereka-mereka yang pulang dari aktivitas nyata mereka di kantor maupun kedai-­kedai, sehingga satu hari lagi muka-muka ini ‘terselamatkan’ dari orang rumah dan para tetangga. Begitu sehari-harinya. Paling tidak 5 hari dalam seminggu, seperti yang lain saja.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:3.6pt;text-indent:18pt;"><span style="font-size:9.5pt;font-family:Verdana;">Tapi dugaanku meleset karena ia kemudian berujar “Perbuatan mereka yang menyebabkan penghidupan kita semakin sulit bahkan tidak terkecuali seseorang seperti aku yang telah malang melintang di profesiku selama ini pun hares menghadapi ketidak pastian seperti ini&#8230; “Memulai Lagi semuanya dari awal tidaklah masalah&#8221; jika harus begitu”. Batinku berkata “Masih bisa sombonga”. “Tapi semuanya dengan profesi yang berbeda sama sekali dengan sebelumnya </span><span style="font-size:9.5pt;font-family:Tahoma;">?,</span><span style="font-size:9.5pt;font-family:Verdana;"> berganti profesi tidak semudah itu dan itu melelahkan bahkan sebelum dimulai. Waktu dihabiskan sekian lama untuk mencoba menekuninya, hasilnya bisa tidak terlihat sama sekali, kebutuhan pokok jalan terus, kewajiban pada keluarga sudah pasti. Kelenturan macam apa yang sedang kita jalani ini<span>    </span></span><span style="font-size:9.5pt;font-family:Verdana;"></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:18pt;"><span style="font-size:9.5pt;font-family:Verdana;">“Pasrah..” singkatku jawab. “Pasrah pada mereka yang membuat kacau kita dengan teror-terornya ?” tanyanya. “Teror atas rasa aman kita sebenarnya tidak dilakukan belakangan ini saja” jawabku yang lalu kulanjutkan “&#8230;tapi dalam variasi-variasi lainnya kita memang telah mulai terbiasa dengan teror itu. Mundur sedikit ke belakang, kita telah dihadapkan pada teror krisis ekonomi yang meneror kita dengan kesulitan hidup yang menghantui masa depan, beberapa bahkan bunuh diri karenanya, dan penyebabnya lagi-lagi moral bobrok pelakunya. Teror lainnya, menghilangkan keberadaan seseorang sehingga lenyap bagai ditelan bumi. Coba­-coba memprotes apalagi menyelidiki bisa-bisa kita ikut dihilangkan, boleh jadi jasad kita atau cukup sekedar nyawa saja. Beberapa rentetan perisiiwa boleh </span><span style="font-size:9.5pt;font-family:Verdana;">jadi<i> </i></span><span style="font-size:9.5pt;font-family:Verdana;">mengarah ke situ. Jadi jika ditambah satu lagi jenis teror seperti yang di Bali itu </span><span style="font-size:9.5pt;font-family:Verdana;">&#8230;“ </span><span style="font-size:9.5pt;font-family:Verdana;">ucapanku terhenti karena ia menyelaku “&#8230;akan tidak menjadi istimewa lagi bagi pasar” sama tidak istimewanya dengan naik turun nilai dolar terhadap rupiah &#8221; yang pernah begitu meneror kita </span><span style="font-size:9.5pt;font-family:Verdana;">&#8221; </span><span style="font-size:9.5pt;font-family:Verdana;">yang dimainkan pialang yang katanya mencerminkan ‘pasar’ <span> </span>itu’. “Ya dan semakin hari orang tidak peduli lagi. Terjadilah apapun yang kan terjadi, kita akan bereaksi sesaat lalu kita lupakan” lanjutku. “Bahkan kepada nyawa-nyawa yang telah hilang sekalipun karena berbagai teror itu ?” tambahnya dengan tatapan tak puas. “Maaf saja, tapi nyatanya memang begitu kan ?” jawabku pasrah. “</span><span style="font-size:9.5pt;font-family:Tahoma;">jadi </span><span style="font-size:9.5pt;font-family:Verdana;">masih mau jadi pahlawan ?” tanyaku bergurau karena kutahu dari keterangannya setelah </span><span style="font-size:9.5pt;font-family:Verdana;">kehilangan posisinya di </span><span style="font-size:9.5pt;font-family:Verdana;">Bali, </span><span style="font-size:9.5pt;font-family:Verdana;">ia sempat menjadi juragan resep di salah satu penginapan </span><span style="font-size:9.5pt;font-family:Verdana;">yang </span><span style="font-size:9.5pt;font-family:Verdana;">kini mendepaknya pula dan ia juga dalam perjuangan menuntut hak-haknya dengan rekan-rekannya </span><span style="font-size:9.5pt;font-family:Verdana;">yang lain </span><span style="font-size:9.5pt;font-family:Verdana;">sembari mengais rezeki apa saja kesana kemari. Dia tidak menanggapiku tapi dengan pelan berucap “pejuang saja dilupakan apalagi orang awam yang menderita dan bermasalah karena semata-mata berada di waktu dan tempat yang salah. Betapa konyolny”. &#8230;Hah !”, serentak kami hanya menghela nafas panjang sembari tersenyum lelah dan menggelengkan kepala.</span><span style="font-size:9.5pt;font-family:Verdana;"></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:3.6pt;text-indent:18pt;"><span style="font-size:9.5pt;font-family:Verdana;">Begitulah kemudian kami berpisah dan ia mengucapkan basa-basi yang kusinggung diawal. Waktu pun telah menunjukkan ‘<i>after hours</i>’ dimana jalanan metropolitan kembali dipadati kendaraan yang merayap. Waktunya untuk menikmati suasana ‘pulang’ sembari membaca berita surat kabar. Salah satu kolomnya &#8220;Peringatan akan terjadi teror sehubungan dengan September 11, warga asing diharapkan mempertimbangkan kembali perjalanannya ke negeri ini.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:7.2pt;text-indent:18pt;"><span style="font-size:9.5pt;font-family:Verdana;">Aku tak habis pikir, kalau sudah begini, warga yang pertama yang diperingatkan justru warga asing. Apa bedanya dengan zaman kolonial </span><span style="font-size:9.5pt;font-family:Arial;">?,</span><span style="font-size:9.5pt;font-family:Verdana;"> warga kelas satu adalah yang bukan bangsa asli negeri ini. Bagaimana dengan nasib kita yang jelas jelas tidak diragukan lagi tidak ada bau-bau asingnya sama sekali </span><span style="font-size:9.5pt;font-family:Arial;">?.</span><span style="font-size:9.5pt;font-family:Verdana;"> Tapi ini pertanyaan basi karena bangsa ini sendirilah yang seharusnya menentukan bagaimana kita baiknya memperlakukan diri sendiri sebelum menuntut bangsa lain soal bagaimana mereka harusnya bersikap kepada kita.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:14.4pt;"><span style="font-size:9.5pt;font-family:Verdana;">Tapi jauh di dalam benakku yang muncul justru pertanyaan ini, “Tidakkah aneh jika berkali-kali dapat memberi peringatan tanpa rakyat terpuaskan dengan tindakan nyata yang diambil untuk mencegah peringatan itu berubah menjadi kenyataan yang ingin kita hindari ?, “menangkap pelaku&#8221; dengan bukti-bukti tentunya&#8221; sebelum tindakannya merugikan orang banyak barangkali ?”, “tidakkah terdengar sumbang jika berselang sekian jam dari sekarang peringatan diberitakan lalu peristiwa itu terjadi ?”, “membuat kita bertanya-tanya adakah semacam rekayasa pihak manapun yang memang selalu punya niat buruk pada bangsa ini &#8221; siapapun mereka ?”.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:3.6pt;text-indent:14.4pt;"><span style="font-size:9.5pt;font-family:Verdana;">Suatu pagi mendekati siang, sekitar jam 10.00 waktu yang umum bagi <span> </span>‘pekerjaan’ kami untuk dimulai dengan berjalan-jalan mengitari suatu tempat sambil memikirkan bagaimana hari ini harus dilalui meski setelah lewat tengah hari prosesnya selalu cenderung menjadi lebih mudah, hanya menunggu kurang dari 5 jam saja sebelum menutup hari.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:3.6pt;text-indent:14.4pt;"><span style="font-size:9.5pt;font-family:Verdana;">Ini hari kedua aku tidak melihat kenalanku itu tapi biasa di sini, teman-teman &#8221; yang terentang usia dari 20-an hingga 60-an&#8221; datang dan pergi begitu saja, cenderung semua urusan hanya dilakukan dan selesai di tempat biasa kami bekerja, di luar itu tidak ada yang mempermasalahkannya. Karena itu aku tenang-tenang saja menuju kedai nasi untuk makan siang, kebetulan di tempat itu tersedia televisi untuk menyaksikan berita siang.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:10.8pt;text-indent:14.4pt;"><span style="font-size:9.5pt;font-family:Verdana;">Tak terbayang berita hari ini menyangkut kenalanku itu, sebuah gambar memperlihatkan sesosok pria yang kukenal dan tampaknya sudah tidak bernafas lagi. Jadi begitulah akhirnya teror yang dikeluhkannya berpuluh jam yang lalu kini telah membungkamnya untuk selamanya karena ia &#8220;seperti kata-katanya sendiri waktu itu&#8221; hanyalah orang awam yang menderita dan bermasalah karena semata-mata berada diwaktu dan tempat yang salah. Tempat dimana meledaknya sebuah bom.</span></p>
<div align="center"> ****</div>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:Verdana;">CERPEN NICO VARNINDO</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:Verdana;">JAKARTA, 10 SEPTEMBER 2004, 02.37 PM</span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/genr.wordpress.com/12/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/genr.wordpress.com/12/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/genr.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/genr.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/genr.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/genr.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/genr.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/genr.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/genr.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/genr.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/genr.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/genr.wordpress.com/12/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=genr.wordpress.com&blog=2602839&post=12&subd=genr&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://genr.wordpress.com/2008/02/26/teror/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/758758f3ee59f1e437503858d66f3239?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">genrnews</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PARANOID</title>
		<link>http://genr.wordpress.com/2008/02/26/paranoid/</link>
		<comments>http://genr.wordpress.com/2008/02/26/paranoid/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Feb 2008 05:16:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>genrnews</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[cewek manis]]></category>
		<category><![CDATA[Kevin]]></category>
		<category><![CDATA[Paranoid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://genr.wordpress.com/?p=10</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Uh, dasar Kevin goblok&#8221; rutuk Kevin pada dirinya sendiri. Ditutupnya rapat-rapat pintu kamar. Dilihat dan disentuhnya cd-cd film kesukaannya di meja belajar, Kuntilanak, Tusuk Jelangkung, Pulse dan film-film yang membuatnya sungguh berbeda dengan Keisha.

&#8220;Kalau tau, semuanya jadi begini. Aku gak kan lakuin Kei&#8221; dihempaskannya tubuh yang masih berseragam putih-abu itu di atas tempat tidur bermotif [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=genr.wordpress.com&blog=2602839&post=10&subd=genr&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><span style="font-size:11pt;"></span><span style="font-size:11pt;">&#8220;Uh, dasar Kevin goblok&#8221; rutuk Kevin pada dirinya sendiri. Ditutupnya rapat-rapat pintu kamar. Dilihat dan disentuhnya cd-cd film kesukaannya di meja belajar, Kuntilanak, Tusuk Jelangkung, Pulse dan film-film yang membuatnya sungguh berbeda dengan Keisha.</span></p>
<p><span id="more-10"></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;">&#8220;Kalau tau, semuanya jadi begini. Aku gak kan lakuin Kei&#8221; dihempaskannya tubuh yang masih berseragam putih-abu itu di atas tempat tidur bermotif spiderman. Dipeluknya bantal spongebob yang selama ini menemaninya tidur.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:7.2pt;"><span style="font-size:11pt;">Tanpa dia sadari matanya mengeluarkan air mata.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;">&#8220;Andai aku tau sebelumnya&#8221; pikirannya tetap saja melayang pada kejadiannya yang membuat satu sekolahan gempar. Keisha pingsan, cewek manis, cakep, pintar, walau gak semua cowok naksir ke dia. Untung bapaknya Keisha langsung menganggap itu memang karena kesalahan Keisha. Walau begitu, Kevin merasa bertanggung jawab atas kejadian itu.</span></p>
<p class="MsoNormal"><!--more--></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;">Dia merasa lelah, lelah dengan kejadian barusan. Diapun merasakan kepalanya pusing dan ingin tertidur. Sesaat dia ingin memejamkan mata, dia melihat siluet, bayangan seseorang dari jendela kamarnya, saat pandangan yang kedua bayangan itu menghilang di tengah gerimis seperti saat ini. Dia terkejut, entah mengapa detak jantungnya terasa lebih cepat berdetak. Tak pernah dia merasa seperti ini sebelumya. Biasanya dia cuek menanggapi hal ini. Mungkin lagi kecapean, pikirnya. Ketika saraf-saraf otaknya berusaha untuk tenang, dia merasa ada sesuatu yang terlewatkan. Matanya langsung terbuka, jantungnya berdegup kencang, sesaat dia terkejut mendengar suara guntur yang seakan menyambar kegalauan hatinya. Dia bangun dan langsung menarik jaket di dekatnya, tanpa berpikir panjang dia keluar dari kamar. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;">&#8220;Ma, aku pergi dulu ya!&#8221; teriaknya untuk memberi tahu mamanya kalau dia mau pergi. &#8220;Vin, bukannya kamu belum makan</span><span style="font-size:11pt;">?&#8221;</span><span style="font-size:11pt;"> jawab mamanya, tapi suara pintu yang tertutup menandakan kevin udah gak ada di dalam rumah. Dia berlari seakan dikejar sesuatu yang akan membuatnya mati jika tidak melakukannya. Tak perduli akan rintik-rintik hujan yang jatuh di kepalanya. Saat itu suasana di luar terasa sepi bagi Kevin, walau di jalan raya banyak kendaraan berlalu lalang seakan tak perduli akan hujan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Dia terus melangkah di atas trotoar yang becek. Langkah yang seirama denga jatuhnya tetesan au hujan yang belum juga reda. Dia tetap tidak peduli. Di perempatan jalan, dia mulai kebingungan, rasa lapar yang ditahannya sedari tadi mulai kumat. Wajahnya basah, pandangannya kabur. Jaket yang dipakainya semakin kuyup, wajahnya yang basah diusapnya dengan tangan. Sesaat dia melangkah menyeberangi jalan, dia melihat lagi siluet yang dilihatnya tadi saat gerimis di kamar. Tapi bayangan itu langsung menghilang. Dadanya berdegup kencang, dan dia mulai merinding. Kenapa aku jadi begini? Tanyanya dalam hati.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;">Akhirnya dia berhenti di depan sebuah rumah sakit. Tujuan yang sebelumnya tak direncanakan oleh Kevin. Dengan gugup dia memasuki rumah sakit itu, dia tidak peduli dengan pandangan orang yang melihatnya risih. Tetes-tetes air berjatuhan dari rambut dan bajunya. Tapi dia tetap berjalan. Dia ingin melihat seseorang yang membuatnya seperti ini. Di depan salah satu kamar VIP, dia mengintip dari jendela kaca, telapak tangannya menempel pada kaca tersebut, ditatapnya seseorang yang berbaring lemas di atas tempat tidur, dia ditemani orang-orang terdekafiya. &#8220;Keisha&#8221; bisik bathinnya seakan menyesali sesuatu. Pikiran Kevin mulai melayang ketika itu saat bel istirahat, Kevin seperti dikejar-kejar setan, berlari keluar dengan tak sabaran. Dia berlari melewati koridor lantai dua, lalu langkahnya terhenti pada kelas XI-IPA 2, dilihatnya Keisha yang masih serius dengan penjelasan pak Harmoko yang akan berakhir. Saat Keisha keluar, Kevin langsung menariknya untuk ikut bersama menuju taman belakang sekolah yang lumayan sepi, hanya ada kolam tak terawat, taman bunga yang sedikit semak, dikelilingi gedung sekolah berlantai tiga yang menyeramkan dan pagar tembok yang tinggi dengan gambar pahlawan. Hanya ada dua jalan masuk menuju tempat ini. Yang satu di tempat Keisha dan Kevin berdiri saat ini, antara tembok pagar dan gedung sekolah yang tak menyatu dan satunya lagi diujung gang di dekat toilet. Di samping kolam, ada sebuah bangku besi yang tak begitu panjang yang mulai berlumut, berada di bawah pohon besar yang rindang. Sebenarnya tempat ini</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;">cukup menarik, hanya saja karena keperluan untuk menambah kelas dibangunlah lagi tambahan gedung yang memisahkan taman ini dengan taman yang lainnya, sehingga tempat ini terasing dan lebih sepi. Paling-paling hanya ada beberapa siswa yang tak ingin diganggu, dan mereka juga tak jauh dari keramaian. Hanya Kevin dan Keisha yang terpisah dari yang lain.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;">Kevin begitu menikmati tempat ini, dia membayangkan sesuatu yang telah direncakan. sampai dia lupa ada Keisha di dekafiya. &#8220;Woi, ngapain kamu di sini Vin?&#8221; Kevin terkejut lemas, Erin menepuk bahunya. Membuat dia tersadar.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;">&#8220;Basah-basah lagi? Kamu mau masuk, masuk aja sana! Tapi aku mo pulang dulu ya&#8221; &#8220;Ehmm, Rin. Aku ikut kamu pulang aja deh, gak apa-apakan</span><span style="font-size:11pt;">?&#8221;</span><span style="font-size:11pt;"> tanyanya gugup. &#8220;Ya udah deh, sebelumnya mendingan kamu keringkan rambut dan tubuhmu dulu. kayaknya kamu butuh istirahat deh&#8221; Kevin akhimya pulang dengan Erin bersama dua orang teman Keisha lainnya yang udah nongkrong di mobilnya Erin. Selama perjalanan Kevin tidak menanggapi apapun pertanyaan dan cerita mereka, dia seakan terpisah dari dunia mereka. Kevin hanya melihat-lihat keluar, di luar masih gelap dan basah, padahal masih jam setengah lima sore. Saat mobil Erin berhenti karena lampu merah, dia terkejut, dadanya seakan sesak. Dia tak sengaja melihat siluet yang pudar tadi semakin jelas, dia berjalan melambat dalam hujan rintik seakan dia tau perhatian Kevin, dia memakai pakaian serba gelap, entah itu warna apa, kepalanya tertutup jas hujan hingga dia terlihat seperti pocong hitam, tapi wajahnya tak terlihat jelas. Tiba-tiba, Kevin merasa tatapannya beradu dengan siluet itu, dan seulas senyum terlihat dari wajah yang tak jelas itu. Dia merasa dadanya semakin sesak, dan degup jantung semakin cepat. &#8220;Hei, Vin kenapa </span><span style="font-size:11pt;">?&#8221;</span><span style="font-size:11pt;"> Indah membuyarkan pandangannya tadi.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;">&#8220;Gak apa-apa kok&#8221; jawab Kevin gugup.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:3.6pt;"><span style="font-size:11pt;">Sesaat dia ingin melihat sosok misterius itu, namun sudah tidak ada lagi. Hanya ada orang-orang yang berusaha menghindari hujan. Tapi dia terbebas dari perasaan yang menyesakkan seperti orang kekurangan oksigen. Dia merasa kepanasan dan keringatnya mulai bercucuran, padahal bajunya masih basah kuyup karena hujan tadi.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;">&#8220;Vin, kamu kenapa? Wajahmu kelihatan pucat, masih mikirin Keisha ya? doain aja, biar dia bisa melewati semua ini dengan baik­baik aja. Kamu gak pa-pakan</span><span style="font-size:11pt;">?&#8221;</span><span style="font-size:11pt;"> tanya Erin di jok depan ingin tahu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:10.8pt;text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">&#8220;Iya, mungkin aku emang butch istirahat&#8221; jawabnya seakan menasehati pada dirinya sendiri.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;">Malam semakin dingin, hujan pun tak henti dari siang tadi. Saat makan malam, dia masih merasa ada bayang-bayang yang membuntutinya. Entah mengapa dia merasa begitu khawatir. Dia seakan melihat sosok hitam yang tiba-tiba akan menyerang ketika dia lalai.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:7.2pt;"><span style="font-size:11pt;">&#8220;Vin, ada apa nak? Kamu sakit? Kok makannya gak dihabisin</span><span style="font-size:11pt;">?&#8221;</span><span style="font-size:11pt;"> tanya mamanya yang heran sekaligus khawatir pada anak satu-satunya yang masih tinggal di rumah sederhana ini.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;">&#8220;Kalau memang kamu gak enak badan, nanti papa panggilin om Faisal ya&#8221; lanjut papanya yang juga tak kalah khawatir. &#8220;Gak kok pa, Kevin masih sehat-sehat aja, paling cuma butch istirahat aja&#8221; jawabnya, tapi diapun masih belum yakin apa yang telah dikatakannya barusan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;">Di kamar dia merasa bosan, mungkin bukan tidur yang bisa membuatnya tenang. Di luar, hujan sudah mereda. Dengan berjalan jalan keluar, mungkin bisa menenangkan pikirannya yang galau. Cukup repot juga untuk meyakinkan orang tuanya. Dicobanya&#8217; untuk menghubungi teman-temannya. Tapi semua ada acara dan kesibukan tersendiri. &#8220;Payah, udah ah, jalan sendiri aja&#8221; kata bathinnya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;">Dia berjalan dengan santai seirama dengan gerimis yang merupakan sisa hujan tadi, sambil berkhayal tentang cerita-cerita yang menyenangkan hati. Suasana semakin nyaman dengan lampu hias kota di pinggir jalan, apalagi didukung dengan pemandangan gedung-gedung bersejarah peninggalan Belanda yang bergaya eropa membuat suasana semakin terasa romantis bagaikan nostalgia ke masa lalu. &#8220;Kalau saja ada suara musik klasik yang mengiringi langkahku&#8221; pikirnya. Tiba-tiba dia seperti tersadar. Dilihatnya sekeliling, dia merasa terpisah dengan dunia nyata. Jantungnya kembali berdegup lebih kencang, entah setan apa yang merasuki pikirannya. Dia merasa ada sosok bayangan yang asing sedari tadi mengikutinya. Dia merasa perlu berlari. Sesaat dia berlari, angin bertiup semakin kencang ditambah dengan gerimis yang semaikin deras. Dan dia terus berlari diantara gedung-gedung tua, dia merasa ornamen patung di gedung yang dilewatinya menatap dengan tajam, dan suara biola entah dari mana datangnya, semakin menyesakkan dadanya. Walau sebenarnya dirinya sendiri tidak yakin apakah patung dan musik itu benar­benar ada. Dia berlari, suara kicauan burung yang aneh membuat telinganya semakin tidak nyaman. Dia terengah-engah berlari. Tapi dia tidakkan mencoba untuk berhenti. Entah mengapa tiba-tiba ada sesuatu yang membuat langkahnya terhenti di persimpangan. Diaturnya napas yang ngos-ngosan. Tanpa diinginkan, Kevin melihat sosok siluet yang semakin jelas di seberang jalan tepat di depannya. Seorang lelaki dengan jas hujan, seakan memberikan senyuman misterius kepada Kevin.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;">Kevin.mengusap wajahnya yang basah, lelaki misterius itu berdiri tenarig di trotoar di bawah ruko yang gelap seperti tak berpenghuni. Dia ingin berlari tapi tak sanggup. Lelaki itu seakan tau jalan pikiran Kevin walau tak jelas akan wajahnya, kevin merasa tatapan matanya yang sinis seakan membunuhnya. Dia merasakan hawa membunuh seperti nyata dari lelaki itu.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;">Dengan menatapnya saja Kevin merasa jantungnya terhunus kunai ninja. Dia sungguh tidak sanggup lagi menghadapi ini semua. Dia merasa lebih baik mati sekarang dari pada harus menatapnya. Dipejamkan matanya, sungguh sepi dan dingin. Dadanya sesak walau angin bertiup kencang, keringat bercucuran padahal sekitarnya begitu dingin. Jantungnya semakin berdetak kencang ketika kesepian seakan menemaninya. Dia merasa ada yang mendekati, tapi dia tak mencoba membuka mata.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:7.2pt;"><span style="font-size:11pt;">&#8220;Woi, Vin&#8221; Erick memanggil Kevin dengan keheranan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;">Kevin merasa jantungnya hampir copot, saat dia merasa ada yang menepuk pundaknya. Dia langsung membuka mata. Seakan terseret ke dunia nyata. Dia melihat sekelilingnya begitu ramai. Sangat ramai. Hujan yang mulai mereda, dan angin yang bertiup santai membuatnya tenang. Dia tidak lagi melihat sosok yang menyeramkan itu lagi. Hanya orang yang berlalu lalang di jantung kota Medan yang seperti terus berdetak semakin cepat. Kesawan Square. Seperti detak jantungnya yang juga berdetak cepat, dia merasa seakan sosok seram belum lelah untuk mengejarnya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;">Dia melihat sekelilingnya lagi, hanya ada orang-orang dengan kesibukannya sendiri. Kini, di langit yang masih mendung, dia berdiri di bawah gedung tua, London Sumatra. Seakan memberikan sinyal padanya, masih ada sesuatu yang harus segera diselesaikan. Dia masih bersalah pada Keisha. Mungkinkah Keisha merasa apa yang kurasa? Tanya bathinnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:10.8pt;"><span style="font-size:11pt;">&#8220;Vin, kamu kok bengong aja</span><span style="font-size:11pt;">?&#8221;</span><span style="font-size:11pt;"> tanya Erick lebih keras lagi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:14.4pt;"><span style="font-size:11pt;">Kevin masih terbengong dan belum menyadari bahwa Erick berada di sampingnya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;">&#8220;Vin kamu kenapa</span><span style="font-size:11pt;">?&#8221;</span><span style="font-size:11pt;"> Tanya Erick untuk menyadarkan Kevin. Kevin merasa suara Erick yang memanggilnya semakin lenyap, matanya semakin berat untuk terbuka. Dia merasa seakan langit jatuh di kepalanya. Suara semakin sepi, pandangannya pun semakin lenyap. Dan dia sudah tak merasakan apa-apa lagi. Hanya ada Keisha yang menari-nari dibenaknya. &#8220;Vin, kamu mau ngasi kejutan apa, mau nembak aku ya? Masak mo nembak cewek di tempat serem kayak gini. Emangnya aku kuntilanak apa.&#8221; Kata Keisha, yang masih menyisakan tawa canda untuk temannya itu. &#8220;Yah, ke-pede-an kamu Kei. Kayaknya emang benar deh, kamu tuh emang kuntilanak.&#8221; Jawab Kevin dengan ceria. Dia ingin menunjukkan sesuatu kepada orang yang sebenarnya mendapat tempat istimewa di hatinya. &#8220;Coba liat ke belakang&#8221; Pinta Kevin dengan menahan tawa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 3.6pt 0.0001pt;"><span style="font-size:11pt;">&#8220;Apaan di belakangku? Jangan main-main ya&#8221; Ketika Keisha mulai membalikkan badan menghadap pohon itu, Kevin seperti siap-siap menarik tali yang berada di tangannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3.6pt;"><span style="font-size:11pt;">Sebuah boneka kuntilanak dengan lidah terjulur dan wajah menyeramkan. &#8220;Apaan nih Vin?&#8221; tanya Keisha. Tapi Kevin tidak merasa khawatir sedikitpun.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3.6pt;"><span style="font-size:11pt;">Saat di tariknya tali yang dipegangnya, tiba-tiba dari atas pohon sebuah boneka jelangkung jatuh tepat di atas kepala boneka kuntilanak itu. Keisha menjerit ketakutan. Sebenarnya Kevin juga terkejut, bukan ini yang diinginkannya. Tapi dia tak sempat memikirkan yang lain, saat dia sadar kalau Keisha terlihat begitu pucat. &#8220;Vin&#8221; Keisha berkata pelan, dari hidungnya mengeluarkan darah. Dan Keisha sudah tak sadarkan diri ketika tubuhnya jatuh ke tanah. &#8220;Keisha&#8221; jerit Kevin tertahan. Tanpa pikir panjang digendongnya Keisha ke ruang P3K. Setelah orangtuanya dihubungi, Keisha langsung dilarikan ke rumah sakit. Kevin begitu terpukul, dia sungguh merasa bersalah. Pikirannya kacau, dia dihantui ketakutan. Saat itu hujan langsung mengguyur kota Medan. Jika sesuatu terjadi pada Keisha, di sisa hidupnya dia akan terus merasa bersalah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Verdana;">***</span><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:'Bookman Old Style';"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3.6pt;"><span style="font-size:11pt;">Di pagi yang cerah, Kevin berjalan di koridor rumah sakit yang sepi. Tepat di depan kamar P202 dia berhenti. Hari ini, orangtuanya melarangnya ke sekolah untuk beristirahat di rumah. Tadi malam, Erick membawanya pulang, karena saat itu Kevin tak sadarkan diri. Tapi Kevin merasa bosan, di rumah dia masih merasakan ketakutan akan sosok misterius yang seakan menjadi teman hidupnya. Dia selalu melihat bayang­bayang itu kemanapun memandang. Maka, dia mencoba untuk mengunjungi Keisha yang baru siuman dari koma. Dia merasa gugup untuk masuk, dilihatnya Keisha terbaring lemas dengan mata terbuka, mungkin dia sedang berkhayal. Dia menghirup aroma bunga yang dipegangnya. Sedikit lebih baik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 72pt 0.0001pt 3.6pt;"><span style="font-size:11pt;">&#8220;Keisha&#8221; panggilnya pelan. &#8220;Eh, Kevin&#8221;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3.6pt;"><span style="font-size:11pt;">Kevin melangkah mendekati Keisha, setelah diberikan bunga yang dipegangnya. Dia duduk di dekat Keisha berbaring. &#8220;Udah merasa baikan</span><span style="font-size:11pt;">?&#8221;</span><span style="font-size:11pt;"> tanyanya mencoba mencairkan suasana yang beku. Keisha cuma mengangguk pelan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 18pt 0.0001pt 3.6pt;"><span style="font-size:11pt;">&#8220;Maafin aku ya Kei, gara-gara aku kamu harus mengalami ini&#8221;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3.6pt;"><span style="font-size:11pt;">&#8220;Gak ada yang perlu disalahkan. Mungkin aku yang terlalu penakut. Dan penyakitku ini membuat semua orang jadi repot&#8221; kata-kata Keisha membuat Kevin sedih. &#8220;Gak Kei&#8221;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:14.4pt;"><span style="font-size:11pt;">&#8220;Vin, setelah ini, aku secepatnya akan pindah ke Singapur, menjalani perawatan lebih lanjut terhadap kankerku yang semakin parah. Dan mungkin juga menjalani terapi kejiwaan. Vin, sejak aku tak sadarkan diri. Aku terus merasa dikejar-kejar sesuatu yang menyeramkan. Aku sungguh ketakutan Vin. Dia seperti ada di mana-mana. aku lelah, dadaku sesak, seakan tak bisa lagi merasakan oksigen. Jantungku berdetak tidak menentu. Kepalaku sakit. Aku seakan melihat kematian ada di depanku. Saat aku sadar, akumerasa takut untuk memejamkan mata.&#8221; Keisha berkata sambil terisak. Hati Kevin perih mendengarnya berkata seperti itu. dia menangis.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:25.2pt;"><span style="font-size:11pt;">&#8220;Tapi, kau akan kembali lagikan?&#8221; tanya Kevin.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:10.8pt;"><span style="font-size:11pt;">&#8220;Aku gak yakin, Vin. Dan aku gak pernah yakin bisa bertemu dengan sesuatu yang pernah kutinggalkan. Mungkin sisa hidupku akan kuhabiskan di sana bersama impian yang tak pernah aku biarkan hilang bersama datangnya penyakit ini&#8221; Katanya lirih. Kevin merasa bersalah, dia takut takkan pernah lagi melihat senyum Keisha. Keisha, gadis impiannya harus pergi di saat dia harus melawan sosok misterius yang terns membayanginya di sisa hidupnya ini. Mungkin ini teguran Allah terhadap manusia sepertiku. Bahkan saat ini dia masih merasa bayang­bayang itu seakan mentertawakannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:10.8pt;">****</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:90pt;"><span style="font-size:11pt;">By Ficko D’Artagnan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:90pt;"><span style="font-size:11pt;">Bumi, 5 Januari 2007. <u><span style="color:blue;"><a href="mailto:flex_casper@yahoo.com">flex_casper@yahoo.com</a></span></u></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:90pt;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3.6pt;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0 10.8pt 7.2pt;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/genr.wordpress.com/10/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/genr.wordpress.com/10/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/genr.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/genr.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/genr.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/genr.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/genr.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/genr.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/genr.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/genr.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/genr.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/genr.wordpress.com/10/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=genr.wordpress.com&blog=2602839&post=10&subd=genr&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://genr.wordpress.com/2008/02/26/paranoid/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/758758f3ee59f1e437503858d66f3239?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">genrnews</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Rara Ada Apa Denganmu?</title>
		<link>http://genr.wordpress.com/2008/01/28/rara-ada-apa-denganmu/</link>
		<comments>http://genr.wordpress.com/2008/01/28/rara-ada-apa-denganmu/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Jan 2008 02:23:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>genrnews</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Ada Apa Denganmu]]></category>
		<category><![CDATA[Rara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://genr.wordpress.com/2008/01/28/rara-ada-apa-denganmu/</guid>
		<description><![CDATA[









 Ra &#8221; suara panggilan Angga tidak menyurutkan langkah Rara. Gadis tinggi semampai itu masih berjalan terus tanpa ingin menghentikan langkahnya. Didengarnya derap lari Angga dibelakang. &#8220;Ra, apa kita bisa selesaikan ini dengan baik-baik?&#8221; Angga sudah berada disampingnya. Rara tak bergeming dia masih melangkahkan kakinya.
&#8220;Ra please, dengerin aku dong.&#8221; Angga berusaha menghentikan langkah Rara dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=genr.wordpress.com&blog=2602839&post=9&subd=genr&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><span><span></span></span></p>
<div>
<table cellpadding="0" cellspacing="0" width="11">
<tr>
<td style="padding:0 0.6pt;" align="left" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:3.6pt;line-height:28.8pt;page-break-after:avoid;"><span style="font-size:36pt;"></span></p>
</td>
</tr>
</table>
</div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><span> </span>Ra &#8221; suara panggilan Angga tidak menyurutkan langkah Rara. Gadis tinggi semampai itu masih berjalan terus tanpa ingin menghentikan langkahnya. Didengarnya derap lari Angga dibelakang. &#8220;Ra, apa kita bisa selesaikan ini dengan baik-baik</span><span>?&#8221;</span><span> Angga sudah berada disampingnya. Rara tak bergeming dia masih melangkahkan kakinya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:18pt;"><span>&#8220;Ra please, dengerin aku dong.&#8221; Angga berusaha menghentikan langkah Rara dan berhasil. Rara berhenti namun tetap bungkam. &#8220;Ra, hubungan kita sudah lama, kamu mikir dong. Jangan egois begitu.&#8221; Rara masih diam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:18pt;"><span>&#8220;Ra, ngomong dong. Kalau kamu seperti ini aku jadi bingung. Kalau aku salah aku minta maaf, tapi aku minta kita tidak berpisah.&#8221; Rara belum beranjak dari tempatnya, masih mematung.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:18pt;"><span>&#8220;Sudah</span><span>?&#8221;</span><span> akhirnya Rara bersuara dengan pandangan tajam kedepan.</span><span id="more-9"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:21.6pt;"><span>&#8220;Ra, please, kamu koq berubah banget sih.&#8221; Angga salting dengan pandangan Rara. Karena mata itu yang dulu membuatnya jatuh. Mata yang begitu misteri dan sarat makna.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:18pt;"><span>&#8220;Aku sudah capek.&#8221; Rara kembali berjalan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:18pt;"><span>&#8220;Ra, aku tahu ini karena pengaruh abang kamu yang sok alim itu. Mentang­mentang sudah pakai janggut, pakai celana gantung kayak orang kebanjiran, nenteng Al Qur-an kecil, sering ke masjid lalu seenaknya menceramahi orang.&#8221; Ocehan Angga menghentikan langkah Rara dan dia menoleh ke belakang. Dia berusaha meredam emosinya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>&#8220;Kamu salah!&#8221;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>&#8220;Lalu karena siapa</span><span>?&#8221;</span><span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:18pt;"><span>Rara tidak perduli dia tetap melangkah. hatinya sakit. Abang yang sangat disayanginya dihina. Memang dia sendiri dulu pemah menghina abangnya kampungan dan norak. Dia juga sering menyebut abangnya anggota Taliban. Tapi itu dulu ketika dia belum paham dengan apa yang menjadi keputusan abangnya. Dan sekarang dia sangat menikmati rasa ketulusan dan ketawadhu&#8217;an abangnya. Dia sering duduk di dekat bang Erwin ketika abangnya itu melantunkan baris demi baris surat cinta dari Allah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:18pt;"><span>&#8220;Ra, apa ada orang lain di hatimu</span><span>?&#8221;</span><span> Angga mensejajari langkah Rara. Rara tetap tidak peduli.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:18pt;"><span>&#8220;Semuanya sudah berakhir.&#8221; Ada getar aneh disuara Rara.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:18pt;"><span>&#8220;Tidak bisa Ra, aku tidak mungkin bisa melupakan kamu.&#8221; Angga menatap Rara.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:18pt;"><span>&#8220;Semuanya jadi mungkin jika kita mau berusaha.&#8221; Lembut Rara berbicara seakan hanya diperuntukkan untuk dirinya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:18pt;"><span>&#8220;Apa tidak ada jalan lain?&#8221; Rara menggeleng. &#8220;Aku sudah memilih.&#8221;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>&#8220;Ra, kamu egois.&#8221;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>&#8220;Apa maksud kamu</span><span>?&#8221;</span><span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>&#8220;Kamu hanya memikirkan diri kamu saja.&#8221;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>&#8220;Justru karena aku memikirkan kita makanya</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>aku memutuskan ini semua.&#8221;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:18pt;"><span>&#8220;Apa keuntungan ini semua? dan tolong jangan bawa-bawa agama seperti yang diucapkan abangmu itu.&#8221;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:18pt;"><span>&#8220;Angga! jangan sekali-kali kamu menyebut bahwa ini karena abangku, dia orang baik dan aku bilang dia lebih baik dari kamu. Ah sudahlah! aku tidak ingin kita bertengkar dan aku kira semuanya sudah berakhir.&#8221;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:18pt;"><span>&#8220;Ra kamu harus menjelaskan ini semua.&#8221; Angga memegang lengan Rara membuat Rara refleks menepisnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:18pt;"><span>&#8220;Aku sudah menjelaskannya kemarin bahwa kita sebaiknya pisah saja karena tidak ada gunanya jika dilanjutkan dan aku rasa sudah cukup dimengerti.&#8221;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>&#8220;Ra, kamu egois.&#8221;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:18pt;"><span>&#8220;Kamu yang egois!&#8221; suara Rara meninggi. &#8220;Pernahkah kamu berpikir bahwa apa yang kita lakukan selama ini hanyalah sandiwara, kepura-puraan </span><span>?&#8221;</span><span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:18pt;"><span>&#8220;Iiamu salah Ra, tidak ada sandiwara dan kepura-puraan. Semuanya nyata. Aku sayang kamu dan &#8220;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:18pt;"><span>&#8220;Aku tidak sayang kamu.&#8221; Rara memotong kata-kata Angga ketus membuat Angga terdiam. Lama.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>&#8220;Jadi selama ini</span><span>?&#8221;</span><span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:18pt;"><span>&#8220;Ya<span>&#8230;&#8230;.. </span>selama ini aku hanya bersandiwara. Aku tidak mencintai kamu, maaf&#8221; Rara tertunduk. Angga terpaku. Mata Rara basah. Dia terisak.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:18pt;"><span>&#8220;Jadi kamu salah bila menganggap ini semua terjadi karena bang Erwin. Ini semua kesalahanku. Aku telah termakan omongan teman-teman. Mereka mengetahui kalau kamu sayang aku. Karena itu mereka berusaha membuat kita bersatu. Tapi beberapa hari ini aku dibayangi rasa bersalah. Memang, semua cerita ini sudah aku ceritakan pada bang Erwin dan dia menyarankan agar aku mengatakan sama kamu. Tapi aku berat, aku malu. Kamu terlalu baik. Rasanya berat untuk menyakiti hati kamu. Tapi karena dorongan bang Erwin akhirnya aku beranikan diri. Dan bang Erwin menitip salam sekaligus maaf buat kamu.&#8221; Rara kembali menata langkahnya yang terhenti membawa kegalauan hatinya. Sementara Angga masih tidak percaya dengan apa yang didengarnya barusan. Dia masih berdiri terpaku. Angin di taman kampus tak dapat menyejukkan hatinya. Dia memandang tubuh Rara dikejauhan. &#8220;Ra apakah ini benar­benar dari hatimu</span><span>?&#8221;</span><span> Hati Angga masih tidak percaya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:10.8pt;text-align:justify;line-height:8.4pt;"><i><span>***</span></i></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:18pt;"><span>Kesunyian malam menyergap rumah berlantai dua itu. Di salah satu kamar yang remang sedang bersimpuh seorang insan. Rara. Sangat khusyuk Rara memohon pada Sang Khaliq akan banyaknya kesalahan dan kealpaan yang dia lakukan. Dia bermunajat dan bermuhasabah. Apa yang telah dikatakannya tadi pagi pada Angga tidak sepenuhnya benar, itu dilakukannya hanya karena ia tidak ingin Angga semakin menjelekkan abangnya. Memang apa yang menjadi keputusannya adalah karena dorongan bang Erwin. Abangnya itu tidak ingin dia semakin jauh berhubungan dengan Angga yang bukan mahramnya. Mulanya dia memang tidak bisa menerima karena hubungan dua tahun yang telah terjalin antara dia dan Angga tidak mudah untuk dilupakan. Apalagi dengan alasan agama melarang. Rara benar-benar tidak bisa menerima. Namun entah kenapa setelah pembicaraan dengan bang Erwin beberapa hari ini, ada suara-suara yang meyakinkan Rara bahwa apa yang dikatakan bang Erwin tidak salah. Bahwa pacaran walaupun memiliki beberapa manfaat tapi lebih sedikit dari pada mudhoratnya yang banyak. Dan itu benar­- benar disadarinya. Aku tidak bisa seperti ini terus, aku hartis jujur pada hatiku. Itulah yang terbesit dalam hatinya sampai ia memutuskan untuk mengikuti saran bang Erwin, dengan membuat daftar manfaat dan mudharat pacaran. Dan hasilnya, manfaat pacaran lebih sedikit ketimbang mudharatnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:18pt;"><span>Rara menengadahkan tangannya. &#8220;Ya Allah, MuharamMu akan datang sucikanlah hatiku dalam menyambut kedatangannya. Dan aku mohon ampunkanlah dosaku dan dosa Angga. Jadikanlah apa yang pernah terjadi padaku dan dia sebagai pelajaran untuk kami dalam menata hidup di duniaMu yang fana ini. Dan jadikanlah hati-hati kami hati yang penuh kecintaan kepadaMu dan pada RasulMu. Amin.&#8221; sebutir bening mengalir dipipinya yang bersih.</span><span>***</span><span> <span> </span><span>Padang, 2004.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>By: Oli Novedi Santi</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:10.8pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Teruntuk adik2ku. Dedek. Babang, Budi, Fahmi. Eki. Ica, Deta dan sikecil yang belum pernah kulihat dan calon adikku satu lagi, jadilah jundi2 Allah yang tangguh</span><span>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:16.2pt;text-align:justify;"><i><span> </span></i></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/genr.wordpress.com/9/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/genr.wordpress.com/9/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/genr.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/genr.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/genr.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/genr.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/genr.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/genr.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/genr.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/genr.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/genr.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/genr.wordpress.com/9/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=genr.wordpress.com&blog=2602839&post=9&subd=genr&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://genr.wordpress.com/2008/01/28/rara-ada-apa-denganmu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/758758f3ee59f1e437503858d66f3239?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">genrnews</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>A HOK</title>
		<link>http://genr.wordpress.com/2008/01/26/a-hok/</link>
		<comments>http://genr.wordpress.com/2008/01/26/a-hok/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Jan 2008 08:12:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>genrnews</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[kabut]]></category>
		<category><![CDATA[Medan]]></category>
		<category><![CDATA[pacar]]></category>
		<category><![CDATA[tipis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://genr.wordpress.com/2008/01/26/a-hok/</guid>
		<description><![CDATA[Kabut tipis masih menyungkup Medan. Dan titik-titik embun di dedaunan berkilau dibias temaram lampu jalan.
Kukuakkan daun jendela lebar-lebar. Seketika udara segar menerobos masuk &#8212; perlahan kuhirup dalam-dalam. Kuedarkan pandangan ke jalan. Masih sepi. Tak satu kendaraan pun yang melintas.
Tiba-tiba mataku menangkap sesosok tubuh yang meringkuk di bawah sebatang pohon di tepi jalan. Aku tak dapat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=genr.wordpress.com&blog=2602839&post=5&subd=genr&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><span></span><span style="font-family:Garamond;">Kabut tipis masih menyungkup Medan. Dan titik-titik embun di dedaunan berkilau dibias temaram lampu jalan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;"><span style="font-family:Garamond;">Kukuakkan daun jendela lebar-lebar. Seketika udara segar menerobos masuk </span><span style="font-family:Garamond;">&#8212;</span><span style="font-family:Garamond;"> perlahan kuhirup dalam-dalam. Kuedarkan pandangan ke jalan. Masih sepi. Tak satu kendaraan pun yang melintas.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;"><span style="font-family:Garamond;">Tiba-tiba mataku menangkap sesosok tubuh yang meringkuk di bawah sebatang pohon di tepi jalan. Aku tak dapat melihat secara jelas. Cahaya neon yang terlindung dedaunan membuat remang-remang tepi jalan itu. Namun samar-samar dapat kulihat orang itu sedang memeluk sebuah bungkusan hitam, dan sebuah lagi teronggok di sisinya. Ah, barangkali orang gila </span><span style="font-family:Garamond;">&#8211;</span><span style="font-family:Garamond;">­bathinku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;"><span style="font-family:Garamond;">Aku melirik jam di dinding, hampir pukul enam, subuh hampir lewat </span><span style="font-family:Garamond;">&#8212;</span><span style="font-family:Garamond;"> kebiasaan buruk!. Tergesa-gesa kuberanjak ke kamar mandi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;"><span id="more-5"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;"><span style="font-family:Garamond;">&#8220;Om udin! Om Udin&#8230;! Salapan!&#8221; Si Kecil Habib </span><span style="font-family:Garamond;">&#8211;</span><span style="font-family:Garamond;">­kemenakanku yang baru tiga tahun itu </span><span style="font-family:Garamond;">&#8212;</span><span style="font-family:Garamond;"> tiba-tiba muncul di pintu kamarku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;"><span style="font-family:Garamond;">&#8220;Eh, Habib! Sudah bangun, ya</span><span style="font-family:Garamond;">?</span><span style="font-family:Garamond;">&#8220;sapaku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;"><span style="font-family:Garamond;">&#8220;He-eh!&#8221; jawabnya sambil menggoyang-goyangkan gordin pintu. &#8220;Om disuluh nenek salapan, nanti telambat,&#8221; katanya lagi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;"><span style="font-family:Garamond;">&#8220;Iya! Om lagi sisiran, nih! Biar keren. Biar nanti di sekolah, Om dapet Tante,&#8221; gurauku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;"><span style="font-family:Garamond;">&#8220;Bial dapat tante-tante, ya, Om</span><span style="font-family:Garamond;">?&#8221;</span><span style="font-family:Garamond;"> Wadduh! Kena aku! &#8220;Bukan! Biardapetcewek!&#8221; &#8220;Cewek itu apa, Om</span><span style="font-family:Garamond;">?&#8221;</span><span style="font-family:Garamond;"> Alahmaak! </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;"><span style="font-family:Garamond;">&#8220;Pacar! Pacar! Tau nggak, pacar</span><span style="font-family:Garamond;">?&#8221;</span><span style="font-family:Garamond;"> &#8220;Pacal itu ap&#8230;.&#8221;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;"><span style="font-family:Garamond;">&#8220;Eit&#8230; sudah, sudah!&#8221; aku segera memberi isyarat tutup mulut. Astaughfirullah&#8230;. aku sudah berkata yang tidak-tidak pada anak ini. Bukannya<span>  </span>Ustadz Zulfan melarang kami pacaran</span><span style="font-family:Garamond;">?.</span><span style="font-family:Garamond;"></span></p>
<p class="MsoNormal"><i><span style="font-family:'Bookman Old Style';">Pacaran itu tidak ada dalam syari&#8217;at! Anak­-anakku sekalian, itu bukan cara-cara Islam!</span></i></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Garamond;">Begitu kata beliau.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;"><span style="font-family:Garamond;">Habib diam </span><span style="font-family:Garamond;">&#8212;</span><span style="font-family:Garamond;"> menunduk sambil menggigit jarinya. Barangkali ia tersinggung.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;"><span style="font-family:Garamond;">Habib memang perajuk. Sebelum dia benar-benar merajuk, segera kugendong dia. &#8220;Kita sarapan sama-sama ya, Bib?&#8221; bujukku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;"><!--more--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;"><span style="font-family:Garamond;">Sudah hampir pukul tujuh, aku segera berangkat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;"><span style="font-family:Garamond;">Sambil membuka pintu pagar kusempatkan melongok ke bawah pohon di tepi jalan. Orang itu tidak kelihatan. Ah, barangkali orang gila itu sudah pergi. Tapi&#8230;. bungkusannyamasih di situ. Dan&#8230;.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;"><span style="font-family:Garamond;">Tiba-tiba kulihat pancuran kecil dari balik pohon. Masya Allah<span>         </span>Orang itu sedang kencing Berdiri!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;"><span style="font-family:Garamond;">Begitu menyadari kehadiranku, orang itu menghentikan aktifitasnya. Dia memandangku. Sepertinya dia malu, tapi </span><span style="font-family:Garamond;">&#8230;</span><span style="font-family:Garamond;"> jangan-jangan dia marah kupandangi terus. Wah, sebelum dia kalap&#8230;&#8230;&#8230;..</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;"><span style="font-family:Garamond;"><span> </span>Aku langsung kabur!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Garamond;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-family:Garamond;">Itulah pertama kali aku melihatnya. Sejak hari itu, ia sepertinya tak pernah beranjak dari bawah pohon di tepi jalan di depan rumahku itu. Berhari-hari. Bahkan berminggusudah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Garamond;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-family:Garamond;">Kalau hujan datang, orang itu 1mengikatkan potongan-potongan kayu di batang pohon itu dan membentangkan selembar plastik lusuh di atasnya untuk tempatnya berteduh.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-family:Garamond;">Dan kudengar orang-orang yang melintas di jalan itu menyapanya A Hok. Ya, A Hok!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;"><span style="font-family:Garamond;">Nama orang itu A Hok. Umurnya sekira lima puluhan. Perawakannya kurus tinggi,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Garamond;">mata sipit dan kepala yang penuh uban. Entah siapa yang memberinya nama itu, tidak ada yang tahu. Sama misterinya dengan kehadirannya di bawah pohon itu.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Garamond;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;"><span style="font-family:Garamond;">&#8220;Din! Coba antarkan nasi ini buat Si A Hok,&#8221; pinta emak suatu siang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;"><span style="font-family:Garamond;">&#8220;Tidak apa-apa, Mak</span><span style="font-family:Garamond;">?&#8221;</span><span style="font-family:Garamond;"> tanyaku ragu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;"><span style="font-family:Garamond;">&#8220;Apanya yang apa-apa</span><span style="font-family:Garamond;">?&#8221;</span><span style="font-family:Garamond;"> Emak balik bertanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-family:Garamond;">Lho, iya! Apanya yang apa-apa? Cuma mengantarkan nasi yang sudah dibungkus emak!</span><span style="font-family:Garamond;">.</span><span style="font-family:Garamond;"> Kemarin juga ada yang berbuat begitu &#8211; &#8212; tetanga-tetangga. Hampir tiap hari ada saja yang memberinya nasi bungkus. Ahok tidak marah, apalagi menggigit&#8230; Cuma, wajahnya datar saja. Tanpa omong sepatahpun, bahkan tanpa ekspresi sama sekali.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Garamond;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-family:Garamond;">Suatu hari sepulang sekolah, dua orang pemuda menghadangku persis di depan rumah. Kedua pemuda itu mengapitku dari kiri dan kanan. Bahkan yang seoran<sub>-</sub>a melin<sub>-</sub>g-karkan tangannya yang bertato </span><i><span style="font-family:'Bookman Old Style';">semrawutan </span></i><span style="font-family:Garamond;">ke pundakku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-family:Garamond;">&#8220;Minta </span><i><span style="font-family:'Bookman Old Style';">goceng </span></i><span style="font-family:Garamond;">dulu, </span><i><span style="font-family:'Bookman Old Style';">lae!&#8221; </span></i><span style="font-family:Garamond;">katanya setengah berbisik. Seketika bau tuak menyeruduk hidung.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;"><span style="font-family:Garamond;">&#8220;Nggak ada, bang&#8230; &#8220;jawabku gemetaran.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;"><span style="font-family:Garamond;">&#8220;Kasilah dulu, belum makan ini!&#8221; Nada suaranya meninggi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;"><span style="font-family:Garamond;">&#8220;Betul, bang, nggak ada!&#8221; kataku lagi meyakinkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;"><span style="font-family:Garamond;">&#8220;Kau mau kasi, nggak</span><span style="font-family:Garamond;">?!&#8221;</span><span style="font-family:Garamond;"> Orang itu membelalakkan biji matanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;"><span style="font-family:Garamond;">Mataku pun ikut terbelalak ketika yang seorang mengeluarkan belati dari sakunya. Ketika itu jugalah A Hok bangkit. Dengan sepotong kayu ia memukul tengkuk begundal itu. Orang itu terkejut dan mengaduh kesakitan. Aku pun terlepas dari cengkeramannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;"><span style="font-family:Garamond;">A Hok menceracau tak menentu. Tak dapat kutangkap apa yang diucapkannya, tapi dia </span><span>seperti sedang marah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span>Orang yang memegang belati itu langsung menyerang A Hok dengan belatinya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span>Tapi A Hok membabi-buta dengan potongan kayu di genggamannya. Bersamaan dengan itu aku berteriak-teriak &#8220;Rampok! Rampok!&#8221;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span>Jalanan yang tadinya sepi seketika ramai. Begundal-begundal itu menyadari situasi yang tak menguntungkan, segera ambil langkah seribu. Orang-orang mengejarnya, tapilolos!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span>Sejak hari itu aku merasa berhutang budi pada A Hok. Setiap hari kuantar makanan buatnya. Namun A Hok diam-diam saja seperti hari-hari lalu. Tanpa bicara, tanpa senyum. Meskipun aku sudah berakrab­akrab menyapanya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;"><span>Malam itu hujan lebat turun. Aku sedan­belajar di kamar. Tiba-tiba aku ingat A Hok.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span>Aku keluar untuk melihat A Hok. Dari kaca jendela ruang tamu yang buram, samar­samar kulihat A Hok meringkuk. Persis seperti pertama kali aku melihatnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span>A Hok pasti sedang kedinginan. Meski A Hok tidak kena hujan </span><span>&#8212;</span><span> karena atap plastik yang dibuatnya cukup lebar, tetapi angin dengan bebas menerpa tubuh rentanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Sedih juga melihat A Hok di luar sana. Dalam hujan dan papas. Sendiri. Asal­usulnya yang tak jelas.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span>Pernah kuusulkan agar A Hok tinggal di rumah kami saja, paling tidak dia bisa berlindung di teras yang lebih hangat, tapi emak diam saja. Abah juga.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;"><span>&#8220;Om, lihat apa</span><span>?&#8221;</span><span> Habib tiba-tiba muncul di sebelahku. Ia juga ikut mengintip ke luar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;"><span>&#8220;A Hok,&#8221; jawabku singkat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;"><span>&#8220;Kasihan ya, Om. A Hok diajak ke rumah aja, Om!&#8221; kata Habib pelan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Aku diam saja.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;"><span>&#8220;Ayo, Bib, kita ke dalam!&#8221; ajakku sambil berbalik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span>Habib tak <a href="http://menyahut.la/"><span style="color:windowtext;text-decoration:none;">menyahut. la</span></a> masih mengintip ke luar. Tiba-tiba Habib memanggilku, &#8220;Om! Om! Sini!&#8221;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;"><span>&#8220;Ada apa, Bib?&#8221; aku menghampirinya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;"><span>Habib menunjuk ke luar. Aku mengintip. Ya Allah! A Hok!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span>Empat orang lelaki memaksa A Hok masuk ke mobil. A Hok meronta memberikan perlawanan. Orang-orang itu memukulinya. Pasti A Hok meraung-raung kesakitan atau menjerit-jerit minta tolong. Namun suaranya ditelan hujan dani angin yang berkesiur.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;"><span>Aku memburu keluar. &#8220;A Hok! A Hok!&#8221; teriakku gusar.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Seisi rumah berhamburan keluar. Emak menjerit jerit memanggilku</span><span>-</span><span>&#8211;khawatir.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span>Begitu aku tiba di jalanan, mobil itu melcsat menembus -clap hujan. Aku uiasih berusaha mengejar sekuat daya, tapi sia-sia. Dan seperti ada yang menyesak di dadaku </span><span>&#8211;</span><span>­khawatir dan kesedihan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span>A Hok diculik! Tetapi aku tak mengenali wajah orang-orang yang menculiknya dalam hujan lebat malam itu. Apakah A Hok punya musuh? Mungkinkah preman-preman yang menodongku kemarin? Barangkali mereka ingin balas dendam pada A Hok. Tapi&#8230; akan mereka apakan orang tua kurang waras itu? Ya, Allah!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span>Sejak, itu, aku tak melihat A Hok lagi. Kabarnya pun tidak!. Aku berusaha mencari, tapi kemana akan kucari, aku tak tahu. Tak ada yang melihat A Hok.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>A Hok raib!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;"><span>Barangkali di antara kalian ada yang melihat A Hok? Tolong beri tahu aku!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>[</span><span> Medan, 4 Pebruari 2000]</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Garamond;">By. Abu Izzah</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Garamond;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/genr.wordpress.com/5/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/genr.wordpress.com/5/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/genr.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/genr.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/genr.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/genr.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/genr.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/genr.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/genr.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/genr.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/genr.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/genr.wordpress.com/5/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=genr.wordpress.com&blog=2602839&post=5&subd=genr&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://genr.wordpress.com/2008/01/26/a-hok/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/758758f3ee59f1e437503858d66f3239?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">genrnews</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MENUNGGU KEMATIAN</title>
		<link>http://genr.wordpress.com/2008/01/24/menunggu-kematian/</link>
		<comments>http://genr.wordpress.com/2008/01/24/menunggu-kematian/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Jan 2008 04:13:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>genrnews</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[ayam]]></category>
		<category><![CDATA[mentari]]></category>
		<category><![CDATA[semur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://genr.wordpress.com/2008/01/24/menunggu-kematian/</guid>
		<description><![CDATA[
Sang Mentari, baru satu jam yang lalu muncul dari ufuk timur. Cahaya kekunignannya yang menyelinap di sela-sela pohon memberi rasa cerah di pagi ini. Kehangatan cahayanya memberi semangat untuk menjalani hidup yang begitu sulit. Biasanya setiap pagi aku sudah pergi bekerja mencari makan, ditemani kicauan burung­burung dan udara segar. Namun, pagi ini berbeda, aku tak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=genr.wordpress.com&blog=2602839&post=4&subd=genr&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><span style="font-size:11.5pt;font-family:Garamond;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:11.5pt;font-family:Garamond;">Sang </span><span style="font-size:11.5pt;font-family:Garamond;">Mentari, baru satu </span><span style="font-size:11.5pt;font-family:Garamond;">jam yang </span><span style="font-size:11.5pt;font-family:Garamond;">lalu muncul dari ufuk timur. Cahaya kekunignannya yang menyelinap di sela-sela pohon memberi rasa cerah di pagi ini. Kehangatan cahayanya memberi semangat untuk menjalani hidup yang begitu sulit. Biasanya setiap pagi aku sudah pergi bekerja mencari makan, ditemani kicauan burung­burung dan udara segar. Namun, pagi ini berbeda, aku tak bisa kemana-mana. Di dalam kurungan aku menunggu detik-detik kematianku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:11.5pt;font-family:Garamond;">Tapi janganlah kau sangka aku ini penjahat. Bukan. Aku ini bukanlah penjahat. Aku bukan perampok kelas kakap yang selalu membunuhi korbannya dengan sadis. Bukan juga aku seorang bandar besar narkoba, yang telah membunuh jiwa jiwa para remaja hingga mereka kehilangan gairah dan semangat untuk hidup.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:7.2pt;text-align:center;" align="center"><span style="font-size:8.5pt;font-family:Verdana;">***</span><span id="more-4"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:11.5pt;font-family:Garamond;">Aku terlahir kembar, </span><span style="font-size:11.5pt;font-family:Garamond;">bukan </span><span style="font-size:11.5pt;font-family:Garamond;">kembar dua melainkan kembar </span><span style="font-size:11.5pt;font-family:Garamond;">lima. </span><span style="font-size:11.5pt;font-family:Garamond;">Kami terlahir di sebuah tempat berteduh </span><span style="font-size:11.5pt;font-family:Garamond;">yang </span><span style="font-size:11.5pt;font-family:Garamond;">sempit dan tanpa penerangan</span><span style="font-size:11.5pt;font-family:Garamond;">-l</span><span style="font-size:11.5pt;font-family:Garamond;">erletak di belakang rumah majikan ibuku. Ketika aku dan keempat saudaraku sudah kuat untuk berjalan ibu mengajak kami bertualang guna berjuang mencari makan. Kami berjalan beriringan mengikuti ibu yang tampak tegar berjuang sendiri mengurusi anank-anaknya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:11.5pt;font-family:Garamond;">Ayah, sosok yang sehrusnya mencari nafkah untuk istri dan anak-anaknya, entah kemana rimbanya. Bahkan aku sendiri tak tau bagaimana wajah dan cirinya. Kudengar kabar, ayah tewas saat bertarung dengan pejantan lain di arena pertarungan yang banyak dikunjungi manusia. Bahkan hanya dengan melihat ayah bertarung, manusia-manusia tersebut ada juga yang bertaruh, memilih siapa petarung yang menang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:11.5pt;font-family:Garamond;">Di hari perdana, kami hanya disuruh ibu menonton bagaimana cara mendapatkan makanan dan dimana saja makanan itu bisa didapat. Kami diajaknya kewarung­warung,rumah makan untuk mengais-ngais tempat sampahnya. Apabila ibu mendapat makanan, ia lantas memanggil kami, kami langsung memperebutkan makanan yang baru didapat ibu itu. Aku kurang gesit saat berebut makanan, sehingga aku jarang mendapat makanan pemberian ibu. Karena itu aku berupaya keras untuk mencari makananku sendiri. Ternyata sulit juga. Tapi akhirnya aku berhasil juga, aku mendapatkan makananku. Senang rasa hatiku. Tapi saat aku masih merayakan keberhasilanku, salah satu saudaraku melihatku dan berlari kearahku dan berupaya merebut makanan yang baru saja kugigit. Spontan aku berlari kearah ibu sambil memanggil-manggilnya Jelas makanan yang dimulutku berjatuhan dan langsung diperebutkan oleh keempat saudaraku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:11.5pt;font-family:Garamond;">Sebenarnya, setiap pagi majikan ibu yang juga majikan kami, selalu memberi makan. Tapi itu mana cukup bagi kami. Kami juga berusaha tidak mau bergantung padanya. Makanya, kami tetap bekerja keras untuk mencari makan, walaupun sang majikan baik kepada kami. Tapi majikanku itu selalu mengusir apabiala ibu, aku,atau saudara-saudaraku masuk kerumahnya yang terlihat besar dan nyaman itu. Bahkan aku pernah mendapat pukulan sapu ketika aku masuk kerumahnya. Apa karena tubuhku dekil, kukuku kotor, badanku bau atau mungkin dia sedang menyembunyikan sesuatu yang tidak boleh diketahui oleh siapapun. Aku jadi penasaran, aku jadi semakin sering menyelinap masuk kerumahnya. Akhirnya aku tau penyebabnya, saat kudengar omelan beliau. Ternyata karena kebiasaanku yang selalu buang hajat di sembarang tempat. Memang sih, ketika aku masuk kerumahnya kadang aku meninggalkan kenang-kenangan tersebut. Kebelet sih!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"> <span style="font-size:8.5pt;font-family:Tahoma;">*</span><span style="font-size:8.5pt;font-family:Tahoma;">**</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:11.5pt;font-family:Garamond;">Ketika tubuhku sudah lumayan gede dan sudah kuat untuk mencari makan sendiri, ibu melepaskan tanggung jawbnya kepadaku. Waktu itu ibu terlihat sakit-sakitan, kena </span><span style="font-size:11.5pt;font-family:Garamond;">flu </span><span style="font-size:11.5pt;font-family:Garamond;">dia, selang beberapa hari ibu mati. Ya, Mati. Pemakamannya diurus oleh majikannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11.5pt;font-family:Garamond;">Barulah aku memulai kehidupan baru tanpa bantuan ibu. Selain mencari makan, aku juga mulai cari-cari pasangan. Banyak sudah yang kudekati. Ada yangtmau, ada jugayang sudah mempunyai pasangan. Bahkan aku pernah berebut pasangan dengan pejantan lain, tapi aku kalah dalam perebutan sengit itu, sehingga kurelakanlah dia. Akhirnya, aku berhasil dapat pasangan yang, yaitu saudara kembarku sendiri. Tentu yang sejenis dengan ibu, akukan bukan homo.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:7.2pt;text-align:center;" align="center"><span style="font-size:8.5pt;font-family:Tahoma;">*</span><span style="font-size:8.5pt;font-family:Tahoma;">*~</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:11.5pt;font-family:Garamond;">Sampai akhirnya, ba&#8217;da subuh tadi. Saat aku baru keluar dari peraduanku, aku ditangkap oleh majikanku sendiri. Sempat aku meronta dan menjerit minta tolong. Namun tak ada yang menolong dan aku dimasukkan kedalam kurungan. Awalnya aku tak tau penyebab aku dijebloskan kedalam kurungan itu. Setelah mendengar percakapan majikanku dengan anaknya, misteri penyekapanku terkuak. Aku hendak dimakan!&#8230;. Tapi janganlah kau sangka majikanku itu kanibal. Jangan pula kau sangka majikanku itu petani Rusia yang hidup di zaman pemerintahan Stalin. Petani yang terpaksa menculik anak kecil untuk dimakan supaya lapar mereka yang amat sangat bisa hilang. Majikanku hanyalah manusia biasa yang ingin menjadikanku hidangan istimewa di hari istimewa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;"><span style="font-size:11.5pt;font-family:Garamond;">Dari kisah hidupku tadi, mungkin kau sudah tau siapalah aku ini. Dan kenapa aku dikurung. Hidupku ini memang terlihat rendah, tapi ada manusia yang hidupnya lebih </span><span style="font-family:Garamond;">rendah dari aku. Pasti kau tau siapa manusia tersebut. Biarpun hidupku rendah tapi aku selalu bersyukur kepada </span><span style="font-family:Garamond;">Allah. </span><span style="font-family:Garamond;">Aku selalu berzikir pada Nya.</span><span style="font-size:11.5pt;font-family:Garamond;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:7.2pt;text-align:center;" align="center"><span style="font-size:8.5pt;font-family:Verdana;">***</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-family:Garamond;">Majikanku dan anaknya berjalan kearahku. Kemudian membawaku ketempat yang sunyi di dekat rerumputan. Terlihat olehku kilatan pisau yang telah terasah yang berada di tangan majikanku menuju leherku. Aku pasrah. Pisau itu menyayat urat leherku bersamaan dengan terdengarnya asma Allah. Setelah itu aku dicampakkan kererumputan. Tubuhku menggelepar tak karuan, tapi anehnya aku tidaklah merasakan sakit yang sangat seperti yang kubayangkan. Di sela kejang-kejangku, sayup-sayup kudengar suara anak majikanku, </span><span style="font-family:Garamond;">&#8220;</span><span style="font-family:Garamond;"> Yah, ayamnya di goreng apa disemor</span><span style="font-family:Garamond;">?!&#8221;</span><span style="font-family:Garamond;"></span></p>
<p class="MsoNormal"> (by: Adi Dharma)</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/genr.wordpress.com/4/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/genr.wordpress.com/4/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/genr.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/genr.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/genr.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/genr.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/genr.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/genr.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/genr.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/genr.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/genr.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/genr.wordpress.com/4/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=genr.wordpress.com&blog=2602839&post=4&subd=genr&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://genr.wordpress.com/2008/01/24/menunggu-kematian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/758758f3ee59f1e437503858d66f3239?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">genrnews</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>