TEROR

“…Oke ya, nanti kita kontak-kontak lagi,“ tapi kalau ada proyek bagi-bagilah, hahaa…”  Aku pun ikut tertawa menanggapi gurauan dan tawanya yang lepas yang selalu mencairkan suasana. Sesungguhnya sebuah gurauan yang lazim diperdengarkan oleh berbagai lapisan masyarakat tapi agaknya itu cenderung sekedar basa-basi, dalam banyak kasus bahkan kata tersebut dimanfaatkan untuk menciptakan postur atau lazim disebut sebagai citra diri ‘sukses’ si penutur kata yang mungkin mereka merasa pantas melakukan itu afau sesungguhnya menutupi keadaannya yang terpuruk jauh dari kata-kata itu.

Mengapa dapat dikatakan demikian?, jawabannya adalah, cobalah sekedar mendengarkan intonasi atau nada dari pengucapan kata tersebut sekaligus ‘jika ada’ jenis tawa yang dilontarkan. Lalu hubungkan dengan ekspresi wajah dan bahasa tubuhnya, lihat juga penampilannya sehari-hari, jika cukup jeli kita dapat melihat kenyataan sehari-harinya, tentang kebiasaan dan dimana mereka biasa berkumpul menghabiskan waktu ‘yang mereka sebut kepada orang rumah dan tetangganya’ untuk ‘bekerja’.

 

Berpuluh-puluh menit yang lalu sebelum berpisah tadi aku dan kenalanku itu kembali ‘terjebak’ rutinitas ‘bekerja yang kami lakukan. Kami bekerja dimanapun kami sempat, kebetulan kesempatan bertemu di sebuah lobby terminal ataupun stasiun dimana bangku-bangku disusun rapi di depan sebuah kedai minuman disanalah kami ‘bekerja‘, yang lain memilih ‘berkantor’ di kedai kenalannya, beberapa yang lain entah mengapa dalam kelompok kecil dengan anggota yang tetap setiap sore pasti bertemu di sebuah gerai telekomunikasi yang sejuk meski mereka harus merogoh sejumlah rupiah untuk membeli 1 atau 2 produk yang dijual jika tak ingin mendapati muka masam pelayannya. Namun semua setuju tempat paling nyaman, murah, meriah adalah rumah tuhan. Disanalah kami bekerja walau awainya malu-malu tapi ada kesepakatan tak tertulis yang dengan sendirinya telah dimengerti semua yang bekerja di situ sehingga tak ada lagi keraguan unfuk menyempat-nyempatkan diri mampir ke rumah tuhan. Untuk apa ?, oh tentu saja untuk menghadap tuhan, memohon bantuan padaNya tapi itupun tak lama karena kami ‘bekerja’, kami berbicara satu sama lain, kami menjual, kami menjual konsep, pikiran dan opini tentang banyak hal pada yang lain. Berhubung kami menjual, yang lainpun ikut menjual di satu­ satunya ‘pasar’ tempat dimana uang tak pernah beredar. Lagi-lagi mengapa demikian ? karena semua orang menjual dan sepatah kata atau berapapun yang dilontarkan pantaskah dihargai dengan mata uang jenis apapun ?. Tunggu !, kami bekerja, lihatlah penampilan kami dengan seragam kemeja dan celana khas kantoran. Kemanapun tas tak pernah tinggal menghiasi penampilan kami maka tidak pada tempatnya kami diragukan.

 

“Apa bisnis sekarang ?”, aku menanyakan kenalanku ini. “Sebuah proyek yang hanya bisa ditembus oleh mereka dengan keterampilan seperti aku. Tahu sendirilah soal formula, resep aku paham benar”. “Jadi sebuah restoran rupanya…”. Tapi ia menampik “..tidak sesederhana itu, dengan bekal sekian lama dan banyaknya pengalaman, terbukti berkali-kali hal ini tidak dapat dilakukan dengan cara-cara lama dan sederhana. Kita ingin tidak sekedar menjual produk tapi juga rasa aman pelanggan yang menikmati produk tersebut di tempat kita. Jadi ini sebuah konsep bisnis yang besar, penting dan tidak main-main”. “Siapa yang mengajak bergabung ?” aku menyela. “Tepatnya merekalah “orang-orang terpilih” yang kuajak bergabung dengan konsep bisnis ini”, jawabnya penuh percaya diri. “Sudah berapa orang yang bergabung ?”. “Saat ini mereka dalam tahap mempelajari setelah sekian pembicaraan dan presentasi yang kita lakukan, jadi… ya tunggu sajalah”. Dalam hati kupastikan bahwa proyeknya belum berjalan sama sekali. Lagi-lagi hanya bicara, lalu apakah ada uangnya ?, bacalah bibir ini dan lihat gelengan kepalaku yang mengatakan TIDAK.

Ternyata ia masih berlanjut untuk mengatakan tentang proyek itu sedikit lagi. “Rasa aman, dalam banyak hal itulah sebenarnya semangat bisnis ini. Setelah kejadian Bali yang mengacaukan kehidupan banyak orang. Kita yang kecil-kecil ini cuma bisa jadi pelengkap penderita rentetan kejadian yang kata orang adalah sebuah skenario besar dari mereka yang berkuasa dan menikmati perannya sebagai tuhan di bumi”.

Mendengar perkataannya aku mulai meraba-raba apakah kami akan segera menyinggung topik sejarah peradaban manusia di bumi yang beragam versinya. Batinku berkata “ini bisa panjang Lagi nih…?”, cukup panjang untuk menghabiskan hari ini sehingga kita dapat pulang ke tempat masing-masing bersamaan dengan mereka-mereka yang pulang dari aktivitas nyata mereka di kantor maupun kedai-­kedai, sehingga satu hari lagi muka-muka ini ‘terselamatkan’ dari orang rumah dan para tetangga. Begitu sehari-harinya. Paling tidak 5 hari dalam seminggu, seperti yang lain saja.

 

Tapi dugaanku meleset karena ia kemudian berujar “Perbuatan mereka yang menyebabkan penghidupan kita semakin sulit bahkan tidak terkecuali seseorang seperti aku yang telah malang melintang di profesiku selama ini pun hares menghadapi ketidak pastian seperti ini… “Memulai Lagi semuanya dari awal tidaklah masalah” jika harus begitu”. Batinku berkata “Masih bisa sombonga”. “Tapi semuanya dengan profesi yang berbeda sama sekali dengan sebelumnya ?, berganti profesi tidak semudah itu dan itu melelahkan bahkan sebelum dimulai. Waktu dihabiskan sekian lama untuk mencoba menekuninya, hasilnya bisa tidak terlihat sama sekali, kebutuhan pokok jalan terus, kewajiban pada keluarga sudah pasti. Kelenturan macam apa yang sedang kita jalani ini   

 

“Pasrah..” singkatku jawab. “Pasrah pada mereka yang membuat kacau kita dengan teror-terornya ?” tanyanya. “Teror atas rasa aman kita sebenarnya tidak dilakukan belakangan ini saja” jawabku yang lalu kulanjutkan “…tapi dalam variasi-variasi lainnya kita memang telah mulai terbiasa dengan teror itu. Mundur sedikit ke belakang, kita telah dihadapkan pada teror krisis ekonomi yang meneror kita dengan kesulitan hidup yang menghantui masa depan, beberapa bahkan bunuh diri karenanya, dan penyebabnya lagi-lagi moral bobrok pelakunya. Teror lainnya, menghilangkan keberadaan seseorang sehingga lenyap bagai ditelan bumi. Coba­-coba memprotes apalagi menyelidiki bisa-bisa kita ikut dihilangkan, boleh jadi jasad kita atau cukup sekedar nyawa saja. Beberapa rentetan perisiiwa boleh jadi mengarah ke situ. Jadi jika ditambah satu lagi jenis teror seperti yang di Bali itu …“ ucapanku terhenti karena ia menyelaku “…akan tidak menjadi istimewa lagi bagi pasar” sama tidak istimewanya dengan naik turun nilai dolar terhadap rupiah ” yang pernah begitu meneror kita yang dimainkan pialang yang katanya mencerminkan ‘pasar’  itu’. “Ya dan semakin hari orang tidak peduli lagi. Terjadilah apapun yang kan terjadi, kita akan bereaksi sesaat lalu kita lupakan” lanjutku. “Bahkan kepada nyawa-nyawa yang telah hilang sekalipun karena berbagai teror itu ?” tambahnya dengan tatapan tak puas. “Maaf saja, tapi nyatanya memang begitu kan ?” jawabku pasrah. “jadi masih mau jadi pahlawan ?” tanyaku bergurau karena kutahu dari keterangannya setelah kehilangan posisinya di Bali, ia sempat menjadi juragan resep di salah satu penginapan yang kini mendepaknya pula dan ia juga dalam perjuangan menuntut hak-haknya dengan rekan-rekannya yang lain sembari mengais rezeki apa saja kesana kemari. Dia tidak menanggapiku tapi dengan pelan berucap “pejuang saja dilupakan apalagi orang awam yang menderita dan bermasalah karena semata-mata berada di waktu dan tempat yang salah. Betapa konyolny”. …Hah !”, serentak kami hanya menghela nafas panjang sembari tersenyum lelah dan menggelengkan kepala.

 

Begitulah kemudian kami berpisah dan ia mengucapkan basa-basi yang kusinggung diawal. Waktu pun telah menunjukkan ‘after hours’ dimana jalanan metropolitan kembali dipadati kendaraan yang merayap. Waktunya untuk menikmati suasana ‘pulang’ sembari membaca berita surat kabar. Salah satu kolomnya “Peringatan akan terjadi teror sehubungan dengan September 11, warga asing diharapkan mempertimbangkan kembali perjalanannya ke negeri ini.

 

Aku tak habis pikir, kalau sudah begini, warga yang pertama yang diperingatkan justru warga asing. Apa bedanya dengan zaman kolonial ?, warga kelas satu adalah yang bukan bangsa asli negeri ini. Bagaimana dengan nasib kita yang jelas jelas tidak diragukan lagi tidak ada bau-bau asingnya sama sekali ?. Tapi ini pertanyaan basi karena bangsa ini sendirilah yang seharusnya menentukan bagaimana kita baiknya memperlakukan diri sendiri sebelum menuntut bangsa lain soal bagaimana mereka harusnya bersikap kepada kita.

 

Tapi jauh di dalam benakku yang muncul justru pertanyaan ini, “Tidakkah aneh jika berkali-kali dapat memberi peringatan tanpa rakyat terpuaskan dengan tindakan nyata yang diambil untuk mencegah peringatan itu berubah menjadi kenyataan yang ingin kita hindari ?, “menangkap pelaku” dengan bukti-bukti tentunya” sebelum tindakannya merugikan orang banyak barangkali ?”, “tidakkah terdengar sumbang jika berselang sekian jam dari sekarang peringatan diberitakan lalu peristiwa itu terjadi ?”, “membuat kita bertanya-tanya adakah semacam rekayasa pihak manapun yang memang selalu punya niat buruk pada bangsa ini ” siapapun mereka ?”.

 

Suatu pagi mendekati siang, sekitar jam 10.00 waktu yang umum bagi  ‘pekerjaan’ kami untuk dimulai dengan berjalan-jalan mengitari suatu tempat sambil memikirkan bagaimana hari ini harus dilalui meski setelah lewat tengah hari prosesnya selalu cenderung menjadi lebih mudah, hanya menunggu kurang dari 5 jam saja sebelum menutup hari.

 

Ini hari kedua aku tidak melihat kenalanku itu tapi biasa di sini, teman-teman ” yang terentang usia dari 20-an hingga 60-an” datang dan pergi begitu saja, cenderung semua urusan hanya dilakukan dan selesai di tempat biasa kami bekerja, di luar itu tidak ada yang mempermasalahkannya. Karena itu aku tenang-tenang saja menuju kedai nasi untuk makan siang, kebetulan di tempat itu tersedia televisi untuk menyaksikan berita siang.

 

Tak terbayang berita hari ini menyangkut kenalanku itu, sebuah gambar memperlihatkan sesosok pria yang kukenal dan tampaknya sudah tidak bernafas lagi. Jadi begitulah akhirnya teror yang dikeluhkannya berpuluh jam yang lalu kini telah membungkamnya untuk selamanya karena ia “seperti kata-katanya sendiri waktu itu” hanyalah orang awam yang menderita dan bermasalah karena semata-mata berada diwaktu dan tempat yang salah. Tempat dimana meledaknya sebuah bom.

 ****

CERPEN NICO VARNINDO

JAKARTA, 10 SEPTEMBER 2004, 02.37 PM

Tinggalkan Balasan