“Uh, dasar Kevin goblok” rutuk Kevin pada dirinya sendiri. Ditutupnya rapat-rapat pintu kamar. Dilihat dan disentuhnya cd-cd film kesukaannya di meja belajar, Kuntilanak, Tusuk Jelangkung, Pulse dan film-film yang membuatnya sungguh berbeda dengan Keisha.
“Kalau tau, semuanya jadi begini. Aku gak kan lakuin Kei” dihempaskannya tubuh yang masih berseragam putih-abu itu di atas tempat tidur bermotif spiderman. Dipeluknya bantal spongebob yang selama ini menemaninya tidur.
Tanpa dia sadari matanya mengeluarkan air mata.
“Andai aku tau sebelumnya” pikirannya tetap saja melayang pada kejadiannya yang membuat satu sekolahan gempar. Keisha pingsan, cewek manis, cakep, pintar, walau gak semua cowok naksir ke dia. Untung bapaknya Keisha langsung menganggap itu memang karena kesalahan Keisha. Walau begitu, Kevin merasa bertanggung jawab atas kejadian itu.
Dia merasa lelah, lelah dengan kejadian barusan. Diapun merasakan kepalanya pusing dan ingin tertidur. Sesaat dia ingin memejamkan mata, dia melihat siluet, bayangan seseorang dari jendela kamarnya, saat pandangan yang kedua bayangan itu menghilang di tengah gerimis seperti saat ini. Dia terkejut, entah mengapa detak jantungnya terasa lebih cepat berdetak. Tak pernah dia merasa seperti ini sebelumya. Biasanya dia cuek menanggapi hal ini. Mungkin lagi kecapean, pikirnya. Ketika saraf-saraf otaknya berusaha untuk tenang, dia merasa ada sesuatu yang terlewatkan. Matanya langsung terbuka, jantungnya berdegup kencang, sesaat dia terkejut mendengar suara guntur yang seakan menyambar kegalauan hatinya. Dia bangun dan langsung menarik jaket di dekatnya, tanpa berpikir panjang dia keluar dari kamar.
“Ma, aku pergi dulu ya!” teriaknya untuk memberi tahu mamanya kalau dia mau pergi. “Vin, bukannya kamu belum makan?” jawab mamanya, tapi suara pintu yang tertutup menandakan kevin udah gak ada di dalam rumah. Dia berlari seakan dikejar sesuatu yang akan membuatnya mati jika tidak melakukannya. Tak perduli akan rintik-rintik hujan yang jatuh di kepalanya. Saat itu suasana di luar terasa sepi bagi Kevin, walau di jalan raya banyak kendaraan berlalu lalang seakan tak perduli akan hujan.
Dia terus melangkah di atas trotoar yang becek. Langkah yang seirama denga jatuhnya tetesan au hujan yang belum juga reda. Dia tetap tidak peduli. Di perempatan jalan, dia mulai kebingungan, rasa lapar yang ditahannya sedari tadi mulai kumat. Wajahnya basah, pandangannya kabur. Jaket yang dipakainya semakin kuyup, wajahnya yang basah diusapnya dengan tangan. Sesaat dia melangkah menyeberangi jalan, dia melihat lagi siluet yang dilihatnya tadi saat gerimis di kamar. Tapi bayangan itu langsung menghilang. Dadanya berdegup kencang, dan dia mulai merinding. Kenapa aku jadi begini? Tanyanya dalam hati.
Akhirnya dia berhenti di depan sebuah rumah sakit. Tujuan yang sebelumnya tak direncanakan oleh Kevin. Dengan gugup dia memasuki rumah sakit itu, dia tidak peduli dengan pandangan orang yang melihatnya risih. Tetes-tetes air berjatuhan dari rambut dan bajunya. Tapi dia tetap berjalan. Dia ingin melihat seseorang yang membuatnya seperti ini. Di depan salah satu kamar VIP, dia mengintip dari jendela kaca, telapak tangannya menempel pada kaca tersebut, ditatapnya seseorang yang berbaring lemas di atas tempat tidur, dia ditemani orang-orang terdekafiya. “Keisha” bisik bathinnya seakan menyesali sesuatu. Pikiran Kevin mulai melayang ketika itu saat bel istirahat, Kevin seperti dikejar-kejar setan, berlari keluar dengan tak sabaran. Dia berlari melewati koridor lantai dua, lalu langkahnya terhenti pada kelas XI-IPA 2, dilihatnya Keisha yang masih serius dengan penjelasan pak Harmoko yang akan berakhir. Saat Keisha keluar, Kevin langsung menariknya untuk ikut bersama menuju taman belakang sekolah yang lumayan sepi, hanya ada kolam tak terawat, taman bunga yang sedikit semak, dikelilingi gedung sekolah berlantai tiga yang menyeramkan dan pagar tembok yang tinggi dengan gambar pahlawan. Hanya ada dua jalan masuk menuju tempat ini. Yang satu di tempat Keisha dan Kevin berdiri saat ini, antara tembok pagar dan gedung sekolah yang tak menyatu dan satunya lagi diujung gang di dekat toilet. Di samping kolam, ada sebuah bangku besi yang tak begitu panjang yang mulai berlumut, berada di bawah pohon besar yang rindang. Sebenarnya tempat ini
cukup menarik, hanya saja karena keperluan untuk menambah kelas dibangunlah lagi tambahan gedung yang memisahkan taman ini dengan taman yang lainnya, sehingga tempat ini terasing dan lebih sepi. Paling-paling hanya ada beberapa siswa yang tak ingin diganggu, dan mereka juga tak jauh dari keramaian. Hanya Kevin dan Keisha yang terpisah dari yang lain.
Kevin begitu menikmati tempat ini, dia membayangkan sesuatu yang telah direncakan. sampai dia lupa ada Keisha di dekafiya. “Woi, ngapain kamu di sini Vin?” Kevin terkejut lemas, Erin menepuk bahunya. Membuat dia tersadar.
“Basah-basah lagi? Kamu mau masuk, masuk aja sana! Tapi aku mo pulang dulu ya” “Ehmm, Rin. Aku ikut kamu pulang aja deh, gak apa-apakan?” tanyanya gugup. “Ya udah deh, sebelumnya mendingan kamu keringkan rambut dan tubuhmu dulu. kayaknya kamu butuh istirahat deh” Kevin akhimya pulang dengan Erin bersama dua orang teman Keisha lainnya yang udah nongkrong di mobilnya Erin. Selama perjalanan Kevin tidak menanggapi apapun pertanyaan dan cerita mereka, dia seakan terpisah dari dunia mereka. Kevin hanya melihat-lihat keluar, di luar masih gelap dan basah, padahal masih jam setengah lima sore. Saat mobil Erin berhenti karena lampu merah, dia terkejut, dadanya seakan sesak. Dia tak sengaja melihat siluet yang pudar tadi semakin jelas, dia berjalan melambat dalam hujan rintik seakan dia tau perhatian Kevin, dia memakai pakaian serba gelap, entah itu warna apa, kepalanya tertutup jas hujan hingga dia terlihat seperti pocong hitam, tapi wajahnya tak terlihat jelas. Tiba-tiba, Kevin merasa tatapannya beradu dengan siluet itu, dan seulas senyum terlihat dari wajah yang tak jelas itu. Dia merasa dadanya semakin sesak, dan degup jantung semakin cepat. “Hei, Vin kenapa ?” Indah membuyarkan pandangannya tadi.
“Gak apa-apa kok” jawab Kevin gugup.
Sesaat dia ingin melihat sosok misterius itu, namun sudah tidak ada lagi. Hanya ada orang-orang yang berusaha menghindari hujan. Tapi dia terbebas dari perasaan yang menyesakkan seperti orang kekurangan oksigen. Dia merasa kepanasan dan keringatnya mulai bercucuran, padahal bajunya masih basah kuyup karena hujan tadi.
“Vin, kamu kenapa? Wajahmu kelihatan pucat, masih mikirin Keisha ya? doain aja, biar dia bisa melewati semua ini dengan baikbaik aja. Kamu gak pa-pakan?” tanya Erin di jok depan ingin tahu.
“Iya, mungkin aku emang butch istirahat” jawabnya seakan menasehati pada dirinya sendiri.
Malam semakin dingin, hujan pun tak henti dari siang tadi. Saat makan malam, dia masih merasa ada bayang-bayang yang membuntutinya. Entah mengapa dia merasa begitu khawatir. Dia seakan melihat sosok hitam yang tiba-tiba akan menyerang ketika dia lalai.
“Vin, ada apa nak? Kamu sakit? Kok makannya gak dihabisin?” tanya mamanya yang heran sekaligus khawatir pada anak satu-satunya yang masih tinggal di rumah sederhana ini.
“Kalau memang kamu gak enak badan, nanti papa panggilin om Faisal ya” lanjut papanya yang juga tak kalah khawatir. “Gak kok pa, Kevin masih sehat-sehat aja, paling cuma butch istirahat aja” jawabnya, tapi diapun masih belum yakin apa yang telah dikatakannya barusan.
Di kamar dia merasa bosan, mungkin bukan tidur yang bisa membuatnya tenang. Di luar, hujan sudah mereda. Dengan berjalan jalan keluar, mungkin bisa menenangkan pikirannya yang galau. Cukup repot juga untuk meyakinkan orang tuanya. Dicobanya’ untuk menghubungi teman-temannya. Tapi semua ada acara dan kesibukan tersendiri. “Payah, udah ah, jalan sendiri aja” kata bathinnya.
Dia berjalan dengan santai seirama dengan gerimis yang merupakan sisa hujan tadi, sambil berkhayal tentang cerita-cerita yang menyenangkan hati. Suasana semakin nyaman dengan lampu hias kota di pinggir jalan, apalagi didukung dengan pemandangan gedung-gedung bersejarah peninggalan Belanda yang bergaya eropa membuat suasana semakin terasa romantis bagaikan nostalgia ke masa lalu. “Kalau saja ada suara musik klasik yang mengiringi langkahku” pikirnya. Tiba-tiba dia seperti tersadar. Dilihatnya sekeliling, dia merasa terpisah dengan dunia nyata. Jantungnya kembali berdegup lebih kencang, entah setan apa yang merasuki pikirannya. Dia merasa ada sosok bayangan yang asing sedari tadi mengikutinya. Dia merasa perlu berlari. Sesaat dia berlari, angin bertiup semakin kencang ditambah dengan gerimis yang semaikin deras. Dan dia terus berlari diantara gedung-gedung tua, dia merasa ornamen patung di gedung yang dilewatinya menatap dengan tajam, dan suara biola entah dari mana datangnya, semakin menyesakkan dadanya. Walau sebenarnya dirinya sendiri tidak yakin apakah patung dan musik itu benarbenar ada. Dia berlari, suara kicauan burung yang aneh membuat telinganya semakin tidak nyaman. Dia terengah-engah berlari. Tapi dia tidakkan mencoba untuk berhenti. Entah mengapa tiba-tiba ada sesuatu yang membuat langkahnya terhenti di persimpangan. Diaturnya napas yang ngos-ngosan. Tanpa diinginkan, Kevin melihat sosok siluet yang semakin jelas di seberang jalan tepat di depannya. Seorang lelaki dengan jas hujan, seakan memberikan senyuman misterius kepada Kevin.
Kevin.mengusap wajahnya yang basah, lelaki misterius itu berdiri tenarig di trotoar di bawah ruko yang gelap seperti tak berpenghuni. Dia ingin berlari tapi tak sanggup. Lelaki itu seakan tau jalan pikiran Kevin walau tak jelas akan wajahnya, kevin merasa tatapan matanya yang sinis seakan membunuhnya. Dia merasakan hawa membunuh seperti nyata dari lelaki itu.
Dengan menatapnya saja Kevin merasa jantungnya terhunus kunai ninja. Dia sungguh tidak sanggup lagi menghadapi ini semua. Dia merasa lebih baik mati sekarang dari pada harus menatapnya. Dipejamkan matanya, sungguh sepi dan dingin. Dadanya sesak walau angin bertiup kencang, keringat bercucuran padahal sekitarnya begitu dingin. Jantungnya semakin berdetak kencang ketika kesepian seakan menemaninya. Dia merasa ada yang mendekati, tapi dia tak mencoba membuka mata.
“Woi, Vin” Erick memanggil Kevin dengan keheranan.
Kevin merasa jantungnya hampir copot, saat dia merasa ada yang menepuk pundaknya. Dia langsung membuka mata. Seakan terseret ke dunia nyata. Dia melihat sekelilingnya begitu ramai. Sangat ramai. Hujan yang mulai mereda, dan angin yang bertiup santai membuatnya tenang. Dia tidak lagi melihat sosok yang menyeramkan itu lagi. Hanya orang yang berlalu lalang di jantung kota Medan yang seperti terus berdetak semakin cepat. Kesawan Square. Seperti detak jantungnya yang juga berdetak cepat, dia merasa seakan sosok seram belum lelah untuk mengejarnya.
Dia melihat sekelilingnya lagi, hanya ada orang-orang dengan kesibukannya sendiri. Kini, di langit yang masih mendung, dia berdiri di bawah gedung tua, London Sumatra. Seakan memberikan sinyal padanya, masih ada sesuatu yang harus segera diselesaikan. Dia masih bersalah pada Keisha. Mungkinkah Keisha merasa apa yang kurasa? Tanya bathinnya.
“Vin, kamu kok bengong aja?” tanya Erick lebih keras lagi.
Kevin masih terbengong dan belum menyadari bahwa Erick berada di sampingnya.
“Vin kamu kenapa?” Tanya Erick untuk menyadarkan Kevin. Kevin merasa suara Erick yang memanggilnya semakin lenyap, matanya semakin berat untuk terbuka. Dia merasa seakan langit jatuh di kepalanya. Suara semakin sepi, pandangannya pun semakin lenyap. Dan dia sudah tak merasakan apa-apa lagi. Hanya ada Keisha yang menari-nari dibenaknya. “Vin, kamu mau ngasi kejutan apa, mau nembak aku ya? Masak mo nembak cewek di tempat serem kayak gini. Emangnya aku kuntilanak apa.” Kata Keisha, yang masih menyisakan tawa canda untuk temannya itu. “Yah, ke-pede-an kamu Kei. Kayaknya emang benar deh, kamu tuh emang kuntilanak.” Jawab Kevin dengan ceria. Dia ingin menunjukkan sesuatu kepada orang yang sebenarnya mendapat tempat istimewa di hatinya. “Coba liat ke belakang” Pinta Kevin dengan menahan tawa.
“Apaan di belakangku? Jangan main-main ya” Ketika Keisha mulai membalikkan badan menghadap pohon itu, Kevin seperti siap-siap menarik tali yang berada di tangannya.
Sebuah boneka kuntilanak dengan lidah terjulur dan wajah menyeramkan. “Apaan nih Vin?” tanya Keisha. Tapi Kevin tidak merasa khawatir sedikitpun.
Saat di tariknya tali yang dipegangnya, tiba-tiba dari atas pohon sebuah boneka jelangkung jatuh tepat di atas kepala boneka kuntilanak itu. Keisha menjerit ketakutan. Sebenarnya Kevin juga terkejut, bukan ini yang diinginkannya. Tapi dia tak sempat memikirkan yang lain, saat dia sadar kalau Keisha terlihat begitu pucat. “Vin” Keisha berkata pelan, dari hidungnya mengeluarkan darah. Dan Keisha sudah tak sadarkan diri ketika tubuhnya jatuh ke tanah. “Keisha” jerit Kevin tertahan. Tanpa pikir panjang digendongnya Keisha ke ruang P3K. Setelah orangtuanya dihubungi, Keisha langsung dilarikan ke rumah sakit. Kevin begitu terpukul, dia sungguh merasa bersalah. Pikirannya kacau, dia dihantui ketakutan. Saat itu hujan langsung mengguyur kota Medan. Jika sesuatu terjadi pada Keisha, di sisa hidupnya dia akan terus merasa bersalah.
***
Di pagi yang cerah, Kevin berjalan di koridor rumah sakit yang sepi. Tepat di depan kamar P202 dia berhenti. Hari ini, orangtuanya melarangnya ke sekolah untuk beristirahat di rumah. Tadi malam, Erick membawanya pulang, karena saat itu Kevin tak sadarkan diri. Tapi Kevin merasa bosan, di rumah dia masih merasakan ketakutan akan sosok misterius yang seakan menjadi teman hidupnya. Dia selalu melihat bayangbayang itu kemanapun memandang. Maka, dia mencoba untuk mengunjungi Keisha yang baru siuman dari koma. Dia merasa gugup untuk masuk, dilihatnya Keisha terbaring lemas dengan mata terbuka, mungkin dia sedang berkhayal. Dia menghirup aroma bunga yang dipegangnya. Sedikit lebih baik.
“Keisha” panggilnya pelan. “Eh, Kevin”
Kevin melangkah mendekati Keisha, setelah diberikan bunga yang dipegangnya. Dia duduk di dekat Keisha berbaring. “Udah merasa baikan?” tanyanya mencoba mencairkan suasana yang beku. Keisha cuma mengangguk pelan.
“Maafin aku ya Kei, gara-gara aku kamu harus mengalami ini”
“Gak ada yang perlu disalahkan. Mungkin aku yang terlalu penakut. Dan penyakitku ini membuat semua orang jadi repot” kata-kata Keisha membuat Kevin sedih. “Gak Kei”
“Vin, setelah ini, aku secepatnya akan pindah ke Singapur, menjalani perawatan lebih lanjut terhadap kankerku yang semakin parah. Dan mungkin juga menjalani terapi kejiwaan. Vin, sejak aku tak sadarkan diri. Aku terus merasa dikejar-kejar sesuatu yang menyeramkan. Aku sungguh ketakutan Vin. Dia seperti ada di mana-mana. aku lelah, dadaku sesak, seakan tak bisa lagi merasakan oksigen. Jantungku berdetak tidak menentu. Kepalaku sakit. Aku seakan melihat kematian ada di depanku. Saat aku sadar, akumerasa takut untuk memejamkan mata.” Keisha berkata sambil terisak. Hati Kevin perih mendengarnya berkata seperti itu. dia menangis.
“Tapi, kau akan kembali lagikan?” tanya Kevin.
“Aku gak yakin, Vin. Dan aku gak pernah yakin bisa bertemu dengan sesuatu yang pernah kutinggalkan. Mungkin sisa hidupku akan kuhabiskan di sana bersama impian yang tak pernah aku biarkan hilang bersama datangnya penyakit ini” Katanya lirih. Kevin merasa bersalah, dia takut takkan pernah lagi melihat senyum Keisha. Keisha, gadis impiannya harus pergi di saat dia harus melawan sosok misterius yang terns membayanginya di sisa hidupnya ini. Mungkin ini teguran Allah terhadap manusia sepertiku. Bahkan saat ini dia masih merasa bayangbayang itu seakan mentertawakannya.
****
By Ficko D’Artagnan
Bumi, 5 Januari 2007. flex_casper@yahoo.com
DIarsipkan di bawah: Cerpen | Ditandai: cewek manis, Kevin, Paranoid
