Rara Ada Apa Denganmu?

Ra ” suara panggilan Angga tidak menyurutkan langkah Rara. Gadis tinggi semampai itu masih berjalan terus tanpa ingin menghentikan langkahnya. Didengarnya derap lari Angga dibelakang. “Ra, apa kita bisa selesaikan ini dengan baik-baik?” Angga sudah berada disampingnya. Rara tak bergeming dia masih melangkahkan kakinya.

“Ra please, dengerin aku dong.” Angga berusaha menghentikan langkah Rara dan berhasil. Rara berhenti namun tetap bungkam. “Ra, hubungan kita sudah lama, kamu mikir dong. Jangan egois begitu.” Rara masih diam.

“Ra, ngomong dong. Kalau kamu seperti ini aku jadi bingung. Kalau aku salah aku minta maaf, tapi aku minta kita tidak berpisah.” Rara belum beranjak dari tempatnya, masih mematung.

“Sudah?” akhirnya Rara bersuara dengan pandangan tajam kedepan.

“Ra, please, kamu koq berubah banget sih.” Angga salting dengan pandangan Rara. Karena mata itu yang dulu membuatnya jatuh. Mata yang begitu misteri dan sarat makna.

“Aku sudah capek.” Rara kembali berjalan.

“Ra, aku tahu ini karena pengaruh abang kamu yang sok alim itu. Mentang­mentang sudah pakai janggut, pakai celana gantung kayak orang kebanjiran, nenteng Al Qur-an kecil, sering ke masjid lalu seenaknya menceramahi orang.” Ocehan Angga menghentikan langkah Rara dan dia menoleh ke belakang. Dia berusaha meredam emosinya.

“Kamu salah!”

“Lalu karena siapa?”

Rara tidak perduli dia tetap melangkah. hatinya sakit. Abang yang sangat disayanginya dihina. Memang dia sendiri dulu pemah menghina abangnya kampungan dan norak. Dia juga sering menyebut abangnya anggota Taliban. Tapi itu dulu ketika dia belum paham dengan apa yang menjadi keputusan abangnya. Dan sekarang dia sangat menikmati rasa ketulusan dan ketawadhu’an abangnya. Dia sering duduk di dekat bang Erwin ketika abangnya itu melantunkan baris demi baris surat cinta dari Allah.

“Ra, apa ada orang lain di hatimu?” Angga mensejajari langkah Rara. Rara tetap tidak peduli.

“Semuanya sudah berakhir.” Ada getar aneh disuara Rara.

“Tidak bisa Ra, aku tidak mungkin bisa melupakan kamu.” Angga menatap Rara.

“Semuanya jadi mungkin jika kita mau berusaha.” Lembut Rara berbicara seakan hanya diperuntukkan untuk dirinya.

“Apa tidak ada jalan lain?” Rara menggeleng. “Aku sudah memilih.”

“Ra, kamu egois.”

“Apa maksud kamu?”

“Kamu hanya memikirkan diri kamu saja.”

“Justru karena aku memikirkan kita makanya

aku memutuskan ini semua.”

“Apa keuntungan ini semua? dan tolong jangan bawa-bawa agama seperti yang diucapkan abangmu itu.”

“Angga! jangan sekali-kali kamu menyebut bahwa ini karena abangku, dia orang baik dan aku bilang dia lebih baik dari kamu. Ah sudahlah! aku tidak ingin kita bertengkar dan aku kira semuanya sudah berakhir.”

“Ra kamu harus menjelaskan ini semua.” Angga memegang lengan Rara membuat Rara refleks menepisnya.

“Aku sudah menjelaskannya kemarin bahwa kita sebaiknya pisah saja karena tidak ada gunanya jika dilanjutkan dan aku rasa sudah cukup dimengerti.”

“Ra, kamu egois.”

“Kamu yang egois!” suara Rara meninggi. “Pernahkah kamu berpikir bahwa apa yang kita lakukan selama ini hanyalah sandiwara, kepura-puraan ?”

“Iiamu salah Ra, tidak ada sandiwara dan kepura-puraan. Semuanya nyata. Aku sayang kamu dan “

“Aku tidak sayang kamu.” Rara memotong kata-kata Angga ketus membuat Angga terdiam. Lama.

“Jadi selama ini?”

“Ya…….. selama ini aku hanya bersandiwara. Aku tidak mencintai kamu, maaf” Rara tertunduk. Angga terpaku. Mata Rara basah. Dia terisak.

“Jadi kamu salah bila menganggap ini semua terjadi karena bang Erwin. Ini semua kesalahanku. Aku telah termakan omongan teman-teman. Mereka mengetahui kalau kamu sayang aku. Karena itu mereka berusaha membuat kita bersatu. Tapi beberapa hari ini aku dibayangi rasa bersalah. Memang, semua cerita ini sudah aku ceritakan pada bang Erwin dan dia menyarankan agar aku mengatakan sama kamu. Tapi aku berat, aku malu. Kamu terlalu baik. Rasanya berat untuk menyakiti hati kamu. Tapi karena dorongan bang Erwin akhirnya aku beranikan diri. Dan bang Erwin menitip salam sekaligus maaf buat kamu.” Rara kembali menata langkahnya yang terhenti membawa kegalauan hatinya. Sementara Angga masih tidak percaya dengan apa yang didengarnya barusan. Dia masih berdiri terpaku. Angin di taman kampus tak dapat menyejukkan hatinya. Dia memandang tubuh Rara dikejauhan. “Ra apakah ini benar­benar dari hatimu?” Hati Angga masih tidak percaya.

***

Kesunyian malam menyergap rumah berlantai dua itu. Di salah satu kamar yang remang sedang bersimpuh seorang insan. Rara. Sangat khusyuk Rara memohon pada Sang Khaliq akan banyaknya kesalahan dan kealpaan yang dia lakukan. Dia bermunajat dan bermuhasabah. Apa yang telah dikatakannya tadi pagi pada Angga tidak sepenuhnya benar, itu dilakukannya hanya karena ia tidak ingin Angga semakin menjelekkan abangnya. Memang apa yang menjadi keputusannya adalah karena dorongan bang Erwin. Abangnya itu tidak ingin dia semakin jauh berhubungan dengan Angga yang bukan mahramnya. Mulanya dia memang tidak bisa menerima karena hubungan dua tahun yang telah terjalin antara dia dan Angga tidak mudah untuk dilupakan. Apalagi dengan alasan agama melarang. Rara benar-benar tidak bisa menerima. Namun entah kenapa setelah pembicaraan dengan bang Erwin beberapa hari ini, ada suara-suara yang meyakinkan Rara bahwa apa yang dikatakan bang Erwin tidak salah. Bahwa pacaran walaupun memiliki beberapa manfaat tapi lebih sedikit dari pada mudhoratnya yang banyak. Dan itu benar­- benar disadarinya. Aku tidak bisa seperti ini terus, aku hartis jujur pada hatiku. Itulah yang terbesit dalam hatinya sampai ia memutuskan untuk mengikuti saran bang Erwin, dengan membuat daftar manfaat dan mudharat pacaran. Dan hasilnya, manfaat pacaran lebih sedikit ketimbang mudharatnya.

Rara menengadahkan tangannya. “Ya Allah, MuharamMu akan datang sucikanlah hatiku dalam menyambut kedatangannya. Dan aku mohon ampunkanlah dosaku dan dosa Angga. Jadikanlah apa yang pernah terjadi padaku dan dia sebagai pelajaran untuk kami dalam menata hidup di duniaMu yang fana ini. Dan jadikanlah hati-hati kami hati yang penuh kecintaan kepadaMu dan pada RasulMu. Amin.” sebutir bening mengalir dipipinya yang bersih.*** Padang, 2004.

By: Oli Novedi Santi

Teruntuk adik2ku. Dedek. Babang, Budi, Fahmi. Eki. Ica, Deta dan sikecil yang belum pernah kulihat dan calon adikku satu lagi, jadilah jundi2 Allah yang tangguh.

Tinggalkan Balasan