A HOK

Kabut tipis masih menyungkup Medan. Dan titik-titik embun di dedaunan berkilau dibias temaram lampu jalan.

Kukuakkan daun jendela lebar-lebar. Seketika udara segar menerobos masuk perlahan kuhirup dalam-dalam. Kuedarkan pandangan ke jalan. Masih sepi. Tak satu kendaraan pun yang melintas.

Tiba-tiba mataku menangkap sesosok tubuh yang meringkuk di bawah sebatang pohon di tepi jalan. Aku tak dapat melihat secara jelas. Cahaya neon yang terlindung dedaunan membuat remang-remang tepi jalan itu. Namun samar-samar dapat kulihat orang itu sedang memeluk sebuah bungkusan hitam, dan sebuah lagi teronggok di sisinya. Ah, barangkali orang gila ­bathinku.

Aku melirik jam di dinding, hampir pukul enam, subuh hampir lewat kebiasaan buruk!. Tergesa-gesa kuberanjak ke kamar mandi.

“Om udin! Om Udin…! Salapan!” Si Kecil Habib ­kemenakanku yang baru tiga tahun itu tiba-tiba muncul di pintu kamarku.

“Eh, Habib! Sudah bangun, ya?“sapaku.

“He-eh!” jawabnya sambil menggoyang-goyangkan gordin pintu. “Om disuluh nenek salapan, nanti telambat,” katanya lagi.

“Iya! Om lagi sisiran, nih! Biar keren. Biar nanti di sekolah, Om dapet Tante,” gurauku.

“Bial dapat tante-tante, ya, Om?” Wadduh! Kena aku! “Bukan! Biardapetcewek!” “Cewek itu apa, Om?” Alahmaak!

“Pacar! Pacar! Tau nggak, pacar?” “Pacal itu ap….”

“Eit… sudah, sudah!” aku segera memberi isyarat tutup mulut. Astaughfirullah…. aku sudah berkata yang tidak-tidak pada anak ini. Bukannya Ustadz Zulfan melarang kami pacaran?.

Pacaran itu tidak ada dalam syari’at! Anak­-anakku sekalian, itu bukan cara-cara Islam!

Begitu kata beliau.

Habib diam menunduk sambil menggigit jarinya. Barangkali ia tersinggung.

Habib memang perajuk. Sebelum dia benar-benar merajuk, segera kugendong dia. “Kita sarapan sama-sama ya, Bib?” bujukku.

Sudah hampir pukul tujuh, aku segera berangkat.

Sambil membuka pintu pagar kusempatkan melongok ke bawah pohon di tepi jalan. Orang itu tidak kelihatan. Ah, barangkali orang gila itu sudah pergi. Tapi…. bungkusannyamasih di situ. Dan….

Tiba-tiba kulihat pancuran kecil dari balik pohon. Masya Allah Orang itu sedang kencing Berdiri!

Begitu menyadari kehadiranku, orang itu menghentikan aktifitasnya. Dia memandangku. Sepertinya dia malu, tapi jangan-jangan dia marah kupandangi terus. Wah, sebelum dia kalap………..

Aku langsung kabur!

Itulah pertama kali aku melihatnya. Sejak hari itu, ia sepertinya tak pernah beranjak dari bawah pohon di tepi jalan di depan rumahku itu. Berhari-hari. Bahkan berminggusudah.

Kalau hujan datang, orang itu 1mengikatkan potongan-potongan kayu di batang pohon itu dan membentangkan selembar plastik lusuh di atasnya untuk tempatnya berteduh.

Dan kudengar orang-orang yang melintas di jalan itu menyapanya A Hok. Ya, A Hok!

Nama orang itu A Hok. Umurnya sekira lima puluhan. Perawakannya kurus tinggi,

mata sipit dan kepala yang penuh uban. Entah siapa yang memberinya nama itu, tidak ada yang tahu. Sama misterinya dengan kehadirannya di bawah pohon itu.

“Din! Coba antarkan nasi ini buat Si A Hok,” pinta emak suatu siang.

“Tidak apa-apa, Mak?” tanyaku ragu.

“Apanya yang apa-apa?” Emak balik bertanya.

Lho, iya! Apanya yang apa-apa? Cuma mengantarkan nasi yang sudah dibungkus emak!. Kemarin juga ada yang berbuat begitu – — tetanga-tetangga. Hampir tiap hari ada saja yang memberinya nasi bungkus. Ahok tidak marah, apalagi menggigit… Cuma, wajahnya datar saja. Tanpa omong sepatahpun, bahkan tanpa ekspresi sama sekali.

Suatu hari sepulang sekolah, dua orang pemuda menghadangku persis di depan rumah. Kedua pemuda itu mengapitku dari kiri dan kanan. Bahkan yang seoran-a melin-g-karkan tangannya yang bertato semrawutan ke pundakku.

“Minta goceng dulu, lae!” katanya setengah berbisik. Seketika bau tuak menyeruduk hidung.

“Nggak ada, bang… “jawabku gemetaran.

“Kasilah dulu, belum makan ini!” Nada suaranya meninggi.

“Betul, bang, nggak ada!” kataku lagi meyakinkan.

“Kau mau kasi, nggak?!” Orang itu membelalakkan biji matanya.

Mataku pun ikut terbelalak ketika yang seorang mengeluarkan belati dari sakunya. Ketika itu jugalah A Hok bangkit. Dengan sepotong kayu ia memukul tengkuk begundal itu. Orang itu terkejut dan mengaduh kesakitan. Aku pun terlepas dari cengkeramannya.

A Hok menceracau tak menentu. Tak dapat kutangkap apa yang diucapkannya, tapi dia seperti sedang marah.

Orang yang memegang belati itu langsung menyerang A Hok dengan belatinya.

Tapi A Hok membabi-buta dengan potongan kayu di genggamannya. Bersamaan dengan itu aku berteriak-teriak “Rampok! Rampok!”

Jalanan yang tadinya sepi seketika ramai. Begundal-begundal itu menyadari situasi yang tak menguntungkan, segera ambil langkah seribu. Orang-orang mengejarnya, tapilolos!

Sejak hari itu aku merasa berhutang budi pada A Hok. Setiap hari kuantar makanan buatnya. Namun A Hok diam-diam saja seperti hari-hari lalu. Tanpa bicara, tanpa senyum. Meskipun aku sudah berakrab­akrab menyapanya.

Malam itu hujan lebat turun. Aku sedan­belajar di kamar. Tiba-tiba aku ingat A Hok.

Aku keluar untuk melihat A Hok. Dari kaca jendela ruang tamu yang buram, samar­samar kulihat A Hok meringkuk. Persis seperti pertama kali aku melihatnya.

A Hok pasti sedang kedinginan. Meski A Hok tidak kena hujan karena atap plastik yang dibuatnya cukup lebar, tetapi angin dengan bebas menerpa tubuh rentanya.

Sedih juga melihat A Hok di luar sana. Dalam hujan dan papas. Sendiri. Asal­usulnya yang tak jelas.

Pernah kuusulkan agar A Hok tinggal di rumah kami saja, paling tidak dia bisa berlindung di teras yang lebih hangat, tapi emak diam saja. Abah juga.

“Om, lihat apa?” Habib tiba-tiba muncul di sebelahku. Ia juga ikut mengintip ke luar.

“A Hok,” jawabku singkat.

“Kasihan ya, Om. A Hok diajak ke rumah aja, Om!” kata Habib pelan.

Aku diam saja.

“Ayo, Bib, kita ke dalam!” ajakku sambil berbalik.

Habib tak menyahut. la masih mengintip ke luar. Tiba-tiba Habib memanggilku, “Om! Om! Sini!”

“Ada apa, Bib?” aku menghampirinya.

Habib menunjuk ke luar. Aku mengintip. Ya Allah! A Hok!

Empat orang lelaki memaksa A Hok masuk ke mobil. A Hok meronta memberikan perlawanan. Orang-orang itu memukulinya. Pasti A Hok meraung-raung kesakitan atau menjerit-jerit minta tolong. Namun suaranya ditelan hujan dani angin yang berkesiur.

Aku memburu keluar. “A Hok! A Hok!” teriakku gusar.

Seisi rumah berhamburan keluar. Emak menjerit jerit memanggilku-–khawatir.

Begitu aku tiba di jalanan, mobil itu melcsat menembus -clap hujan. Aku uiasih berusaha mengejar sekuat daya, tapi sia-sia. Dan seperti ada yang menyesak di dadaku ­khawatir dan kesedihan.

A Hok diculik! Tetapi aku tak mengenali wajah orang-orang yang menculiknya dalam hujan lebat malam itu. Apakah A Hok punya musuh? Mungkinkah preman-preman yang menodongku kemarin? Barangkali mereka ingin balas dendam pada A Hok. Tapi… akan mereka apakan orang tua kurang waras itu? Ya, Allah!

Sejak, itu, aku tak melihat A Hok lagi. Kabarnya pun tidak!. Aku berusaha mencari, tapi kemana akan kucari, aku tak tahu. Tak ada yang melihat A Hok.

A Hok raib!

Barangkali di antara kalian ada yang melihat A Hok? Tolong beri tahu aku!

[ Medan, 4 Pebruari 2000]

By. Abu Izzah

Satu Tanggapan

  1. salam kenal

Tinggalkan Balasan